METODOLOGI
PENELITIAN KUANTITATIF
Disusun guna memenuhi tugas:
METODOLOGI
PENELITIAN KUANTITATIF
Dosen pengampu: Dr. H.
Ansor Anwar, M.Pd
Oleh : Supriyo

PROGRAM
PASCA SARJANA
UNIVERSITAS
PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
JOMBANG
2018
BAB 1
A. Pendahuluan
Meotodologi Penelitian
kuantitatif dengan teknik statistiknya diakui mendominasi analisis penelitian
sejak abad ke-18 sampai abad ini. Dengan semakin canggihnya teknologi komputer,
berkembang teknik-teknik analisis statistik yang mendukung pengembangan
penelitian kuantitatif. Metodologi penelitian kuantitatif statistik menjadi
lebih bergengsi daripada metodologi penelitian kuantitatif. Lebih-lebih bila
diperhatikan pula pada sejumlah kenyataan bahwa ada sementara calon ilmuwan
yang menggunakan metodologi kualitatif dengan alasan dan bukti
ketidakmampuannya di dalam menggunakan teknik-teknik analisis statistik.
Pada segi lain, karena
bergengsinya metodologi penelitian kuantitatif dengan teknik-teknik
statistiknya, banyak ilmuwan ataupun pakar ilmu yang tenggelam ke dalam
teknik-teknik analisis yang canggih, sehingga melupakan kelemahan di damping
keunggulan filsafat dan teori metodologi penelitian yang melandasinya.
Secara garis besar, dapat dijelaskan
bahwa metodologi penelitian kuantitatif mulai dengan menetapkan obyek studi
yang spesifik, dieliminasikan dari totalitas atau konteks besarnya sehingga
menjadi ekplisist atau jelas obyek studinya. Sesudah itu, baru disusun kerangka
teori sesuai dengan obyek studi spesifiknya. Dari situ, dapat ditelorkan
hipotesis atau problematik penelitian, instrumen pengumpulan data, teknik
sampling serta teknik analisisnya. Selain itu juga dapat ditentukan rancangan
metodologik lainnya seperti penetapan batas signifikansi, teknik-teknik
penyesuaian jika ada kekurangan atau kekeliruan di dalam hal data, adminstrasi,
analisis, dan semacamnya. Dengan kata lain, semua dirancang dan direncanakan
secara matang sebelum peneliti terjun ke lapangan untuk melakukan kegiatan
penelitiannya.
B. Melakukan Penelitian Kuantitatif
1. Persyaratan Penelitian
a. Sistematis
Dilaksanakan menurut pola
tertentu dari yang paling sederhana sampai dengan yang kompleks sehingga
tercapai tujuan secara efektif dan efisien.
b. Berencana
Dilaksanakan dengan
adanya unsur kesengajaan dan sebelum dilakukan penelitian, sudah dipikirkan
langkah-langkah pelaksanaanya.
c. Mengikuti Konsep Ilmiah
Mulai dari awal sampai
dengan akhir kegiatan, penelitian dilakukan dengan mengikuti cara-cara atau
langkah-langkah yang sudah ditentukan, yaitu prinsip yang digunakan untuk
memperoleh ilmu pengetahuan (taraf berpikir ilmiah oleh John Dewey di dalam
reflective thinking) yang antara lain meliputi:
1) The felt nee
Penelitian dilakukan karena diawali
oleh adanya kebutuhan atau tantangan untuk menyelesaikan suatu masalah.
2) The Problem
Merumuskan masalah agar
suatu masalah penelitian menjadi jelas batasan, kedudukan, dan alternatif cara
untuk memecahkan masakah tersebut.
3) The hypothesis
Menetapkan hipotesis
sebagai titik tolak mengadakan kegiatan pemecahan masalah.
4) Collection of data as evidence
Mengumpulkan data untuk
menguji hipotesis.
5) Concluding belief
Menarik kesimpulan
berdasarkan hasil pengolahan data dan dikembalikan kepada hipotesis yang sudah
dirumuskan.
6) General value of the conclusion
Menentukan kemungkinan
untuk mengadakan generalisasi dari kesimpulan tersebut dan implikasinya di masa
yang akan datang (Sutrisno Hadi di dalam Suharsimi Arikunto, 1998: 15).
2. Prosedur Penelitian kuantitatif
Langkah-langkah penelitian
kuantitatif menurut Suharsimi Arikunto (1998: 17) adalah sebagai berikut:
a. Memilih Masalah
b. Melakukan Studi Pendahuluan
c. Merumuskan Masalah Rancangan
Penelitian
d. Merumuskan Anggapan Dasar dan
Hipotesis
e. Memilih Pendekatan
f. Menentukan Variabel dan Sumber
Data
g. Menentukan dan Menyusun Instrumen
h. Mengumpulkan Data
i. Menganalisis Data Pelaksanaan
j. Menarik Kesimpulan
k. Menulis Laporan Pembuatan Laporan
Langkah-langkah
penelitian kuantitatif tersebut secara sederhana dapat diuraikan sebagai
berikut:
a. Memilih Masalah
Masalah timbul karena adanya
tantangan, kesangsian atau kebingungan terhadap suatu hal atau fenomena,
kemenduaan arti (ambiguity), halangan dan rintangan, celah (gap) baik
antarkegiatan atau antarfenomena baik yang telah ada ataupun yang akan ada.
Masalah yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mempunyai nilai penelitian.
Masalah mempunyai nilai
penelitian apabila:
a) mempunyai sifat keaslian.
b) menyatakan suatu hubungan.
c) merupakan hal yang penting.
d) dapat diuji.
e) dinyatakan di dalam bentuk
pertanyaan.
2) Mempunyai fisibilitas (dapat dilaksanakan).
Persyaratan ini akan terpenuhi
apabila:
a) Data serta metode untuk memecahkan
masalah tersedia.
b) Cukup waktu, tenaga dan biaya
untuk memecahkan masalah tersebut.
c) Ada dukungan dari pihak-pihak
terkait.
d) Masalah tidak bertentangan dengan
hukum, moral dan etika.
3) Sesuai dengan kualifikasi si
peneliti.
Masalah yang baik adalah yang menarik
bagi peneliti dan sesuai dengan kualifikasi dari si peneliti itu sendiri.
4) Hasil penelitian bermanfaat.
Ciri ini sekaligus
merupakan syarat terpenting bagi suatu kegiatan penelitian karena penelitian
yang baik pada dasarnya dilakukan dalam rangka untuk menyumbangkan hasil
penelitian tersebut kemajuan ilmu pengetahuan, meningkatkan efektifitas kerja,
atau mengembangkan sesuatu yang sudah ada.
Masalah-masalah penelitian dapat
diperoleh dari sumber masalah sebagai berikut:
1) Pengalaman pribadi peneliti di
dalam kehidupan sehari-hari.
2) Pengamatan pribadi terhadap
lingkungan sekitar.
3) Bacaan-bacaan, baik yang ilmiah
maupun yang non ilmiah.
b. Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan
dimaksudkan untuk menjajagi kemungkinan bisa tidaknya kegiatan penelitian
diteruskan. Selain itu juga dimaksudkan untuk mencari informasi yang diperlukan
oleh peneliti agar masalahnya menjadi lebih jelas kedudukannya.
1) Manfaat Studi Pendahuluan
Manfaat dari studi pendahuluan antara
lain terkait dengan informasi yang di dapat oleh peneliti mengenai:
a) apa yang akan diteliti.
b) Di mana dan kepada siapa informasi
dapat diperoleh.
c) Bagaimana cara memperoleh
data/informasi.
d) Teknik apa yang akan dugunakan
untuk menganalisis data.
e) Bagaimana harus mengambil
kesimpulan serta memanfaatkan hasil penelitian.
2) Cara Mengadakan Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan dapat dilakukan
pada 3 obyek yang biasa di kenal dengan istila 3 p (paper, person, place).
c. Merumuskan Masalah Penelitian
Agar penelitian dapat dilakukan
dengan sebaik-baiknya, maka peneliti perlu untuk merumuskan masalahnya sehingga
menjadi jelas dari mana harus memulai, ke mana harus diarahkan dan dengan apa
bisa dijalankan. Umumnya masalah penelitian dirumuskan dengan memperhatikan
ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1) dirumuskan dalam bentuk
pertanyaan.
2) Rumusan jelas dan padat.
3) mencerminkan ciri penelitian yang
dilakukan.
Selain ketentuan di atas, masih
terdapat beberapa ketentuan yang diantaranya adalah rumusan masalah harus
merupakan dasar bagi perumusan judul, perumusan tujuan, dan pembuatan
hipotesis.
Sebagai contohnya:
Judul : Studi Korelasi antara
Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018
Masalah : Adakah korelasi antara
motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris Siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018?
Tujuan : Untuk mengetahui korelasi
antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris Siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018.
Untuk mengetahui apakah judul
tersebut sudah memenuhi persyaratan sebagai judul penelitian yang baik, maka
bisa dilihat dari unsur-unsur yang terdapat di dalam judul penelitian tersebut
yang diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Sifat atau jenis penelitian :
Penelitian Korelasi
2) Obyek yang akan diteliti :
Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Bahasa Inggris
3) Subyek Penelitian : Siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018
4) Lokasi Penelitian : Sekolah SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018
5) Waktu Penelitian : Tahun Ajaran
2017-2018
d. Merumuskan Aggapan Dasar dan
Hipotesis Penelitian
1) Anggapan Dasar
Anggapan dasar atau postulat
menurut Winarno Surakhmad di dalam Suharsimi Arikunto (1998: 60) adalah sebuah
titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Setiap peneliti
dapat merumuskan postulat sendiri-sendiri yang bersifat sangat subyektif.
Seorang peneliti mungkin masih meragukan suatu anggapan dasar yang oleh
peneliti lain sudah diterima sebagai suatu kebenaran. Dari contoh Judul
penelitian di atas anggapan dasar penelitian antara lain dapat dirumuskan
sebagai berikut:
a) Siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018mendapatkan
mata pelajaran Bahasa Inggris.
b) Motivasi belajar siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018 bervariasi.
c) Prestasi belajar siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018 bervariasi.
1) Hipotesis Penelitian
q Pengertian = jawaban sementara yang
masih perlu dibuktikan kebenarannya di lapangan. Berasal dari kata hipo = lemah
dan thesis = kebenaran. Hipotesis diturunkan dari kajian teoretik yang
dijembatani penyusunannya oleh kerangka berpikir
q Macam = hipotesis nol (Ho) =
menyatakan ketiadaan, dan hipotesis alternatif (Ha/H1) = menyatakan ke-adaan.
Dari contoh judul penelitian di atas,
hipotesis penelitiannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
Hipotesis Nol (Ho) :
Tidak ada korelasi antara motivasi
belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018
Hipotesis Alternatif (Ha/H1):
Ada korelasi antara motivasi belajar
dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018
Contoh Ho = “Tidak ada perbedaan
prestasi belajar antara siswa yang mengikuti les dengan siswa yang tidak
mengikuti les”
Contoh H1 = “Ada perbedaan prestasi
belajar antara siswa yang mengikuti les dengan siswa yang tidak mengikuti les”
q Hipotesis diperlukan pada
penelitian yang bersifat inferensial pertautan antara dua variabel atau lebih.
q Susunan hipotesis hendaknya =
menggunakan kalimat deklaratif, pertautan antara 2 variabel, jelas dan padat,
serta memungkinkan untuk diuji.
q Penelitian yang mengkaji pertautan
dua variabel, membutuhkan satu hipotesis (“Ada ….. antara variabel A dengan
variabel B”). Penelitian yang mengkaji pertautan tiga variabel, membutuhkan
tiga hipotesis = (1) “Ada ….. antara variabel A-1 dengan variabel B”, (2) “Ada
….. antara variabel A-2 dengan variabel B”, (3) “Ada interaksi antara A-1 dan
A-2 dalam memberikan pengaruh kepada B”
q Penelitian
deskriptif-kualitatif-eksploratif biasanya tidak memerlukan hipotesis karena
jenis penelitian ini cenderung bersifat menggali satu variabel saja. Peneliti
cukup melaporkan secara deskriptif hasil galian itu baik dalam angka-angka
maupun uraian kalimat. Contoh = “studi tentang kemampuan menulis karangan
argumentasi siswa SDN 1 Grobogn
kecamataan Mojowarno kabupaten
Jombang tahun pelajaran 2017-2018”.
Ingat dalam mata kuliah statistik disebutkan “statistik deskriptif hanya
bertugas mengumpulkan-menata-menginterpretasi data, tidak sampai pada
penyimpulan”. Penyimpulan hanya terjadi pada statistik inferensial.
e. Memilih Pendekatan (Metode dan
Rancangan Penelitian)
Ada banyak metode yang dapat
digunakan untuk penelitian, antara lain:
q Metode survei = metode untuk
memperoleh fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual
baik tentang institusi sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya.
q Metode komparasional = metode
penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang
sebab-akibat dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun
munculnya suatu fenomena tertentu.
q Metode eksperimen = metode
observasi di bawah kondisi buatan (artificial condition) di mana kondisi
tersebut dibuat dan diatur oleh si peneliti.
q Metode sejarah = metode penelitian
yang menyelidiki secara kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan, serta
pemahaman di masa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang
bukti validitas dari mana sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber
keterangan tersebut.
q Metode deskriptif = metode
pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Metode ini mempelajari
masalah-masalah dalam masyarakat, serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat,
serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan,
sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung
dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.
q Metode studi kasus = metode penelitian
tentang status subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau
khas dari keseluruhan personalitas. Subjek penelitian dapat saja individu,
kelompok, lembaga, maupun masyarakat.
q Ada satu metode yang biasa dipakai
oleh mahasiswa jurusan sastra dalam melakukan penelitian literer / studi
sastra, yaitu “Metode analisis isi / content analysis”. Metode ini dapat
dipadukan dengan metode kualitatif, desktiptif, dan teori kritik / apresiasi
sastra.
q Dan lain-lain (silahkan baca = Moh
Nasir “Metode Penelitian”, 1999:55-98)
q Rancangan penelitian dapat didesain
sesuai dengan pola hubungan antar variabel. Untuk itu, rancangan penelitian
dapat berupa = penelitian eksperimental, deskriptif, korelasional, dan lain
sebagainya. Pada intinya rancangan penelitian dibagi dalam dua kelompok besar,
yaitu = studi tentang hubungan dan studi tentang perbedaan. Pola dari dua
kelompok itu digambar dalam diagram sebagai berikut:
Hubungan:
X-1
(Interaksi antara X-1 dan X-2
terhadap Y)
X-2
Y
(diagram di atas merupakan desain
koresional è pertautan 3 variabel = 2 variabel bebas yaitu X-1 dan X-2, dan 1
variabel terikat yaitu Y è membutuhkan tiga hipotesis)
X
Y
(Catatan: diagram di atas merupakan
desain koresional è pertautan 2 variabel = 1 variabel bebas yaitu X, dan 1
variabel terikat yaitu Y è membutuhkan satu hipotesis)
Perbedaan:
FAKTOR B
B1
B2
FAKTOR A
A1
Y
Y
A2
Y
Y
(diagram di atas merupakan desain
faktorial 2 X 2 è 2 faktor è pertautan 3 variabel = 2 variabel bebas, yaitu A
dan B, serta 1 variabel terikat yaitu Y è membutuhkan 3 hipotesis)
FAKTOR A
A-1
A-2
A-3
A-4
Y
Y
Y
Y
diagram di atas merupakan desain 1
faktor è pertautan 2 variabel = 1 variabel bebas yaitu A yang terdiri dari 4
jenis perlakuan, dan 1 variabel terikat yaitu Y è membutuhkan 1 hopotesis)
f. Menentukan Variabel dan Sumber
Data
1) Variabel Penelitian
q Variabel adalah fenomena yang
merupakan objek penelitian, yaitu konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai,
yaitu sumber dari mana data diambil. Contoh = jenis kelamin (punya nilai
laki-laki dan perempuan), berat badan (punya nilai ringan, sedang, berat)
q Macam Variabel:
Ø Variabel kontinu, yaitu variabel
yang dapat ditentukan nilainya dalam jarak jangkau tertentu dengan desimal yang
tidak terbatas. Contoh = berat (75,09 kg., 76,14 kg., 80,00 kg.)
Ø Variabel descrete atau variabel
kategori yaitu variabel yang nilainya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk
pecahan atau desimal di belakang koma, variabel ini bersifat dikotomis (dua
kategori). Contoh = Jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), status perkawinan
(kawin dan belum kawin). Variabel yang nilainya lebih dari dua disebut variabel
politom. Contoh = tingkat pendidikan (SD, SLTP, SLTA)
Ø Variabel independent (bebas) =
variabel anteseden, yaitu variabel yang secara bebas dapat dimanipulasi oleh peneliti
(dalam penelitian eksperimen), secara bebas diambil oleh peneliti (sebagai in
put) dan dapat mempengaruhi variabel terikat (dalam penelitian eksperimen atau
ex post facto). Variabel dependent (terikat) = variabel konsekuen, yaitu
variabel yang kondisinya merupakan akibat (out put) dari variabel bebas,
bergantung pada perilaku variabel bebas.
Ø Variabel moderator, yaitu variabel
yang berpengaruh terhadap variabel dependent tetapi tidak utama.
Ø Variabel random, yaitu variabel
lain kecuali moderator yang dapat berpengaruh terhadap variabel dependent.
Ø Variabel aktif, yaitu variabel yang
dimanipulasikan oleh peneliti (yang aktif mempengaruhi variabel terikat).
Ø Variabel atribut, yaitu variabel
yang tidak dapat dimanipulasikan oleh peneliti karena karakternya melekat pada
objek / manusia. Contoh = intelegensi, jenis kelamin, status sosial ekonomi,
pendidikan, sikap, dll.
a) Pengukuran Variabel Penelitian
q Pengukuran merupakan kegiatan
penetapan atau pemberian angka terhadap objek atau fenomena menurut aturan
tertentu.
q Macam-macam ukuran:
Ø Ukuran nominal = adalah ukuran di
mana angka hanya sebagai label saja, tidak menunjukkan tingkatan apa-apa.
Contoh = 1 (pria); 2 (wanita); 0 (banci)
Ø Ukuran ordinal = adalah ukuran di
mana angka menyatakan tingkatan, tetapi tidak memberikan nilai absolut. Ukuran
ini hanya digunakan untuk mengurutkan / merangking objek dari rendah ke tinggi.
Skala rangking bukanlah skala yang mempunyai interval yang sama. Contoh = 1
(25), 2 (60), 3 (65), 4 (95)
Ø Ukuran interval = adalah ukuran di
mana angka menunjukkan suatu tingkatan, tidak memberi nilai absolut. Ukuran ini
menyatakan bahwa interval antara angka-angka tersebut sama besarnya / jaraknya.
Contoh nilai tes = 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
Ø Ukuran rasio = adalah ukuran di
mana angka menunjukkan suatu tingkatan dan memberi nilai absolut. Ukuran ini
mempunyai titik nol. Angka menunjukkan nilai yang sebenarnya dari objek yang
diukur. Contoh = jika ada 4 bayi: A, B, C, D mempunyai berat badan 1 kg, 3 kg,
4 kg, 5 kg, maka ukuran rasionya dapat digambarkan bahwa = 0 = 0, 1 = A, 2 = 0,
3 = B, 4 = C, 5 = D
§ Teknik analisis statistik yang
digunakan bagi sebuah penelitian kuantitatif, sangat ditentukan oleh ukuran
dari setiap variable penelitian yang digunakan.
q Devinisi operasional variabel
adalah devinisi berdasarkan sifat yang diamati sesuai indikator-indikator yang
ditentukan oleh peneliti. Contoh = Status sosial ekonomi yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah tingkat atau kedudukan orang tua siswa dalam bidang
ekonomi. Status sosial ekonomi tersebut diungkap dengan indikator-indikator
yaitu: jenis/macam pekerjaan, jenjang pendidikan, masa kerja, ruang golongan
gaji, jabatan struktural, instansi kerja, besar gaji dan tunjangan tiap bulan,
fasilitas hidup.
q Penyusunan devinisi operasional
variabel yang berdasarkan pada sifat dan indikator ini dapat disusun dengan
logika berpikir kritis, pengetahuan ilmiah dan pengalaman empiris (Nana Sujana,
1990:14).
q Devinisi operasional variabel
berfungsi untuk mempertajam pemahaman konsep dan ruang lingkup
variabel-variabel yang diambil peneliti sendiri, agar menjadi pedoman
operasional bagi peneliti pada saat melaksanakan penelitian.
2) Sumber Data
a) Pengertian Data
Data adalah keterangan mengenai
sesuatu yang berbentuk angka-angka dan mungkin bukan angka-angka (kuantitatif
maupun kualitatif)
b) Populasi dan Sampel
q Populasi = semua anggota dari
kelompok manusia, kejadian, barang, data yang merupakan objek penelitian
q Sampel = sebagian kecil dari
populasi yang harus mewakili / representatif
q Jumlah sampel dapat ditentukan
dengan berbagai kriteria. Donald Ary menyebut 10 – 20 persen atau lebih (lihat
Terj. Arief Furchon, 1982:198). Jika jumlah objeknya kecil (kurang dari 30
orang) sebaiknya menggunakan sampel total (sensus), artinya semuanya dijadikan
objek penelitian.
q Macam-macam teknik sampling (teknik
penentuan sample):
Ø Random sampling = teknik
pengambilan sampel di mana semua anggota populasi mempunyai hak / kesempatan
yang sama untuk menjadi sampel. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara (1)
undian = dengan gulungan kertas, (2) ordinal = setelah ditentukan jumlah sampel
200 orang dari 1000 orang (jadi seper lima-nya), maka kita buat 5 gulungan
kertas diberi angka 1, 2, 3, 4, 5. Kita ambil satu gulungan, jika jatuh nomor
3, maka angka pertama dimulai dengan nomor 3, lalu = 8, 13, 18, 23, dan
seterusnya. (3) dengan tabel bilangan random, yaitu dengan menjatuhkan ujung
pensil.
Ø Sampel berstrata (stratified
sampling) = teknik ini digunakan jika peneliti berpendapat bahwa populasi
terbagi atas tingkat-tingkat atau strata. Setelah ditentukan tiap-tiap
stratanya (yang mewakili populasi), lalu tiap strata diambil secara random.
Contoh = tingkat pendidikan, strata umur, strata kelas, dll.
Ø Sampel wilayah (area sampling) =
teknik ini digunakan jika peneliti berpendapat bahwa populasi terbagi atas
area-area atau wilayah-wilayah. Setelah ditentukan tiap-tiap wilayahnya (yang
mewakili karakter seluruh wilayah), lalu tiap wilayah diambil secara random.
Contoh = dari 34 provinsi di Indonesia diambil beberapa propinsi yang
mencerminkan keberhasilan KB di Indonesia.
Ø Sampel proporsi (proportional
sampling) = teknik ini mirip sampel berstrata atau area dan tiap tiap bagian
diambil secara proporsional dalam persen yang telah ditentukan. Setelah
ditentukan tiap-tiap wilayahnya atau stratanya (yang mewakili karakter seluruh
wilayah atau strata), lalu tiap bagian diambil secara random berdasarkan jumlah
proporsi yang ditentukan peneliti. Sehingga sampel ini dapat digabung menjadi =
stratifief proporsional random sampling atau area proporsional random sampling.
Ø Sampel bertujuan (purposive
sampling) = teknik ini digunakan karena peneliti mempunyai tujuan tertentu atas
beberapa pertimbangan peneliti. Pertimbangan itu antara lain misalnya =
keterbatasan waktu, tenaga dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang
besar. Meskipun demikian, peneliti harus mempertimbangkan bahwa = sampel harus
mewakili, sampel harus benar-benar diambil dari subjek yang banyak mengandung
ciri-ciri yang ada pada populasi (key subject).
Ø Sampel kuota (Quota sampling) =
teknik ini digunakan jika peneliti telah menentukan jumlah tertentu yang akan
diambil sebagai sampel. Yang penting adalah memenuhi quota tertentu yang
ditetapkan dan representatif.
Sampel kelompok (Cluster sampling) =
teknik ini digunakan jika peneliti merasa bahwa populasinya terdiri dari
kelompok-kelompok yang setara, misalnya = petani, pegadang, nelayan, ABRI,
pegawai, dll. Sampel tetap diambil secara representatif.
g. Menentukan dan Menyusun Instrumen
q Intrumen penelitian dibuat dengan
menyesuaikan teknik pengambilan data yang dipilih.
q Validitas dan reliabilitas
instrumen penelitian.
Ø Validitas = menunjuk kepada sejauh
mana suatu alat mampu mengukur apa yang seharusnya diukur, dan reliabilitas
mengacu kepada sejauh mana suatu alat ukur secara ajeg mengukur apa yang
diukurnya (Donald Ary, 1982:281).
Ø Ada beberapa jenis validitas = (1)
validitas isi = sejauh mana instrumen mencerminkan isi yang dikehendaki.
Validitas ini sering disebut validitas kurikulum karena suatu tes disusun
berdasarkan kurikulum. (2) Validitas bangun pengertian = menunjuk kepada apa
unsur-unsur yang membentuk pengertian itu dan sejauh mana hasil tes dapat
ditafsirkan menurut bangunan pengertian itu. Untuk menyusun bangun pengertian
(yang lalu berwujud indikator-indikator) ini peneliti dapat menggunakan logika
berpikir, pengetahuan ilmiah, dan pengetahuan empiris (Nana Sujana, 1990:14).
(3) Validitas muka = berhubungan dengan penilaian para ahli terhadap suatu alat
ukur. Valid kalau telah diperiksa oleh seorang ahli (pembimbing). (4) Validitas
empiris = valid jika telah diujicobakan di lapangan. (5) dan lain-lain.
Ø Validitas empiris dapat diukur
secara internal dan secara eksternal. Secara internal instrumen penelitian akan
diukur tingkat kesulitannya dan tingkat daya bedanya. Secara eksternal, hasil
uji cobanya akan dibandingkan dengan nilai standar. Ada banyak rumus statistik
yang dapat digunakan untuk melakukan komputasi guna mengetes validitas ini = antara
lain rumus korelasi product moment. Daya beda dan tingkat kesulitan dapat
dikomputasi dengan metode Flanagan
Reliabilitas diukur dengan teknik =
test-retest, split-half, tes paralel. Dan komputasinya dapat dengan rumus
statistik korelasi product moment.
h. Mengumpulkan Data
q Teknik pengumpulan data adalah
teknik yang digunakan untuk menjaring data yang diperlukan sesuai dengan sampel
yang telah ditentukan. Macam-macam teknik sebagai berikut:
Ø Interview atau wawancara. Dalam
wawancara diperlukan panduan atau pedoman wawancara, yaitu kisi-kisi yang
berisi butir-butir pertanyaan agar wawancaranya terarah. Wawancara dapat
dilakukan secara terbuka/bebas (mendalam = in-depth interviewing) atau tertutup
(dengan jawaban ya-tidak atau dengan tanda checking)
Ø Observasi. Sama dengan wawancara
juga diperlukan kisi-kisi observasi sehingga observer dapat mencatat gejala
secara terurai atau membubuhkan tanda checking.
Ø Dokumentasi, yaitu teknik mengambil
data dengan memeriksa dokumen-dokumen yang telah ada sebelum penelitian
berlangsung.
Ø Qoessioner atau angket. Sama dengan
interview atau observasi, angket juga dibuat dengan kisi-kisi yang ditentukan
oleh indikator-indikator atau diskriptor-diskriptor. Ingatlah bagaimana
menyusun indikator (lihat Nana Sujana, 1990:14).
Ø Tes, dan lain-lain
i. Menganalisis Data
Ada dua tahap dalam menganalisis data
kuantitatif:
1) Analisis deskriptif yang
menganalisis pendeskripsian data dengan menyajikan: distribusi frekuensi. nilai
median, mean, modus, standar deviasi, histogram dan poligon;
2) Analisis inferensial yang macamnya
terdiri antara lain sebagai berikut:
q Uji beda dua rata-rata = yaitu
pembandingan dua rata-rata yang menguji 3 macam hipotesis yaitu (a) ada
berbedaan VS tidak ada perbedaan, (b) lebih besar VS lebih kecil, (c) lebih
kecil VS lebih besar. Pilihlah jenis hipotesis sesuai dengan desain penelitian
yang dilakukan.
Teknik komputasi statistik yang dapat
digunakan untuk uji beda dua rata-rata ialah t-test atau z-test. Untuk uji beda
lebih dari dua rata-rata menggunakan Anava (analysis of variance) baik satu
jalan maupun dua jalan
q Korelasi = yaitu teknik analisis
statistik yang menguji ada atau tidak adanya hubungan antara dua variabel atau
lebih. Ada yang berpendapat bahwa uji korelasi ini dipakai untuk menguji
hubungan dua variabel atau lebih yang peneliti tidak tahu mana yang variabel
aktif dan mana yang variabel pasif.
q Regresi = yaitu teknik analisis
statistik yang menguji ada atau tidak adanya sumbangan (kontribusi) variabel
prediktor (variabel bebas) terhadap variabel terikatnya. Uji regresi ini dapat
regresi sederhana (1 prediktor) dan regresi ganda (2 atau lebih prediktor)
q Chi Kuadrat, dan lain sebagainya
Hasil analisis data.
Bagian ini merupakan bagian yang
beriisi laporan hasil komputasi. Jadi, daftar data mentah (daftar nilai dalam
tabel, misalnya) hendaknya tidak ditulis di sini, tetapi diletakkan dalam
lampiran.
Catatan = untuk teknik analisis
statistik ini silahkan baca “Metoda Statistika” (Sudjana, 1982, Bandung:
Tarsito), dan buku-buku statistik lainnya “seperti tulisannya Sutrisno Hadi”
yang dipandu dalam mata kuliah “Statistik”.
j. Menarik Kesimpulan
Kesimpulan adalah hasisl dari suatu
proses tertentu, yaitu menarik dalam arti memindahkan sesuatu dari suatu tempat
ke tempat lain. Oleh karena itu, kesimpulan penelitian harus selalu mendasarkan
diri pada semua data yang diperoleh dari kegiatan penelitian. Dengan kata lain,
penarikan kesimpulan harus didasarkan atas data. Oleh karena itu kesimpulan
tidak dapat lepas dari problematic dan hipotesis penelitian.
Contoh:
Problematik:
Adakah korelasi antara motivasi
belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018?
Hipotesis:
Ada korelasi antara motivasi belajar
dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018.
Kesimpulan:
Ada korelasi antara motivasi belajar
dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMAN Mojoagung Tahun Ajaran 2017-2018
k. Menulis Laporan
Penelitian adalah kegiatan ilmiah.
Maka dari itu laporan penelitian yang dibuat juga harus mengikuti aturan-aturan
penulisan karya ilmiah. Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh pembuat
laporan penelitian:
q Penulis laporan harus tahu betul
kepada siapa laporan itu ditujukan.
q Penulis laporan harus menyadari
bahwa pembaca laporan tidak mengikuti proses penelitian.
q Penulis laporan harus menyadari
bahwa latar belakang pengetahuan, pengalaman dan minat pembaca laporan tidaklah
sama.
q Laporan harus jelas dan meyakinkan.
Untuk melengkapi pemahaman mengenai
penelitian kuantitatif, berikut ini akan diberikan beberapa ciri yang dapat
membedakan penelitian kuantitatif dari penelitian kualitatif.
CIRI PEMBEDA
PENELITIAN KUANTITATIF
PENELITIAN KUALITATIF
1. Datanya
Berupa angka-angka
Berupa kata-kata
2. Sifat Datanya
Bersifat monitetik (Satu tanda satu
makna)
Bersifat ideosinkretis (Satu tanda
banyak makna)
3. Peranan Hipotesis
Sangat penting
Tidak harus disebutkan, hanya sebagai
alternatif, tidak untuk diuji.
4. Peranan Statistik
Statistik mutlak digunakan
Tidak harus menggunakan statistik.
5. Peranan Instrumen
Mengandalkan pada intrumen
Peneliti sendiri sebagai instrumen
karena harus berinteraksi dengan obyek.
6. Sifat Proses dan Produk
Lebih berorientasi pada produk
Lebih berorientasi pada proses
7. Sifat interaktif
Tidak interaktif
Interaktif
8. Nilai-nilai
Bebas nilai
Tidak bebas nilai
9. Generalisasi
Dapat digeneralisisikan
Tidak dapat digeneralisisikan
10. Struktur
Sudah memiliki struktur yang baku
Sedang mencari bentuk
C. KARAKTERISTIK PENDEKATAN
KWANTITATIF DAN KWALITATIF DALAM PENELITIAN
1. Karakteristik Pendekatan
Kuantitatif
Sebagaimana telah diuraikan
sebelumnya, pendekatan kuantitatif berdasarkan atas paradigma positivisme yang
berpandangan bahwa peneliti dapat dengan sengaja mengadakan perubahan terhadap
dunia sekitar dengan melakukan berbagai eksperimen. Para penganut positivisme
percaya bahwa manusia dapat menemukan aturan-aturan, hukum-hukum, dan
prinsip-prinsip umum tentang dunia kenyataan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun
dalam ilmu-ilmu sosial termasuk pendidikan. Hukum-hukum itu dapat ditemukan
dari data empiris dengan menggunakan sampel yang representatif. Mereka juga
berpendirian bahwa realitas itu dapat dipecah menjadi bagian-bagian dan hukum
yang berlaku bagi bagian yang kecil juga berlaku untuk keseluruhan.
Adapun karakteristik pendekatan
kuantitatif yang dilandasi oleh paradigma positivisme menurut Nasution (1998),
Brannen (1999), Bryman (1998) Strauss dan Corbin (2002) adalah sebagai berikut
: (a) logika eksperimen dengan memanipulasi variabel yang dapat diukur secara
kuantitatif agar dapat dicari hubungan antara berbagai variabel. (b) mencari
hukum universal yang dapat meliputi semua kasus, meskipun dengan pengolahan
statistik dicapai tingkat probabilitas dengan mementingkan sampel untuk mencari
generalisasi, (c) netralitas pengamatan dengan hanya meneliti gejala-gejala
yang dapat diamati langsung dengan mengabaikan apa yang tidak dapat diamati dan
diukur dengan instrumen yang valid dan reliabel. Netralitas memungkinkan
penelitian itu direplikasi, (d) bersifat atomistik, yaitu memecah kenyataan
dalam bagian-bagian dan mencari hubungannya, (e) bersifat deterministik,
tertuju pada kepastian dengan mengadakan pengujian terhadap hipotesis, dan (f)
tujuan yang pokok adalah mencapai generalisasi yang dapat digunakan untuk
meramalkan atau memprediksi.
Di samping itu pendekatan kuantitatif
juga dapat dijelaskan ciri-cirinya ditinjau dari operasionalisasinya, yaitu :
(1) desain penelitian kuantitatif bersifat spesifik, jelas, rinci, hipotesis
dirumuskan dengan tegas dan ditentukan secara mantap sejak awal untuk dijadikan
pegangan bagi setiap langkah penelitian yang dilakukan, (2) tujuan penelitian
kuantitatif adalah untuk menunjukkan hubungan antar variabel, menguji teori dan
mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif, (3) instrumen penelitian
menggunakan tes, a`ngket, wawancara, dengan alat berupa kalkulator, komputer,
dan sebagainya, (4) data penelitian bersifat kuantitatif yang diperoleh dari
hasil pengukuran berdasarkan variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan
instrumen, (5) sampelnya besar, representatif, dan diusahakan sedapat mungkin
diambil secara random, (6) analisis data dilakukan pada tahap akhir setelah
pengumpulan data selesai, bersifat deduktif dan menggunakan statistik, dan (7)
hubungan antara peneliti dengan responden berjarak, sering tanpa kontak
langsung.
Karakteristik Pendekatan Kualitatif
Pendekatan kualitatif berdasarkan
paradigma post-positivisme yang mengikuti jalan yang berbeda dengan paradigma
positivisme. Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dilaksanakan
dalam situasi alamiah atau “natural setting” sehingga pendekatan ini juga
disebut metode naturalistik. Pada hakekatnya pendekatan kualitatif itu adalah
mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha
memahami bahasa dan penafsiran mereka mengenai dunia sekitarnya. Untuk itu
peneliti harus terjun ke lapangan dan berada di tengah-tengah mereka dalam
waktu yang cukup.
Menurut Nasution (1998), Suryabrata
(1999), Moleong (1999), Bogdan dan Biklen (2002), Lincoln dan Guba (2003),
pendekatan kualitatif memiliki karakteristik sebagai berikut: (a) sumber data
adalah situasi alamiah, peneliti mengumpulkan data berdasarkan observasi
situasi sebagaimana adanya, langsung berhubungan dengan situasi dan orang yang
diteliti, (b) peneliti merupakan alat pengumpul data utama sehingga disebut
“key instrument”. Sebagai instrumen utama, peneliti dapat memahami interaksi
antar manusia, mengetahui gerak roman muka, menyelami perasaan dan nilai yang
terkandung dalam ucapan dan kegiatan responden, (c) bersifat deskriptif
sehingga datanya dituangkan dalam bentuk uraian, (d) mengutamakan proses dari
pada hasil, karena dengan mengamati proses tersebut, maka hubungan antara
bagian-bagian yang diteliti akan jauh menjadi lebih jelas, (e) sampelnya
purposif tidak bersifat random dan jumlahnya sedikit tetapi dipilih orang-orang
yang benar-benar mengetahui permasalahan (key person) sesuai dengan tujuan
penelitian, (f) mengutamakan data langsung atau first hand dan mencari makna
dibalik perilaku, (g) partisipasi tanpa mengganggu, artinya untuk memperoleh
situasi alamiah, peneliti tidak menonjolkan diri saat melakukan observasi agar
tidak dianggap sebagai “orang luar” sehingga tidak mengganggu kewajaran
situasi, (h) mengutamakan perspektif emik, yaitu mengutamakan pandangan
responden dan bukan pandangan peneliti (perspektif etik), (i) trianggulasi,
yaitu mengadakan uji validitas data kualitatif dengan mengadakan pengecekan
tentang kebenaran data yang diperoleh dari satu responden dengan responden lain
yang dipandang juga mengetahui kebenaran data tersebut, dan (j) analisis data
bersifat induktif.
Di samping itu, ditinjau dari segi
operasionalisasinya penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif juga
dapat diidentifikasi ciri-cirinya, yaitu: (1) desain penelitian kualitatif
bersifat umum, singkat, fleksibel, dan berkembang dalam proses penelitian,
serta tidak ada hipotesis (2) tujuan penelitian adalah untuk memperoleh
pemahaman makna verstehen, menggambarkan realitas yang kompleks, (3) teknik
penelitian adalah dengan observasi berpartisipasi dan wawancara mendalam
sehingga bersifat deskriptif, (4) analisis data dilakukan secara terus menerus
sejak awal sampai akhir penelitian dan bersifat induktif, dan (5) hubungan
antara peneliti dengan responden adalah akrab, empati, dan kedudukannya sama.
DAFTAR PUSTAKA
Kartini Kartono. 1996. Pengantar
Metodologi Riset Sosial. Bandung: Mandar Maju.
Nasir, Moh. 1988. Metode Penelitian.
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur
Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Winarno Surakhmad. 1998. Pengantar
Penelitian Ilmiah: Dasar, Metode, Teknik. Bandung: Tarsito
Tidak ada komentar:
Posting Komentar