SINOPSIS
MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Model Pembelajaran Multiple Representasi
( Model SiMaYANG )
Pembelajaran Empat Fase dengan Lima Kegiatan:
Orientasi, Eksplorasi Imajinatif, internalisasi, dan Evaluasi.
Dosen Pengampu
Prof. Dr. H. ISMET BASUKI, M.Pd
Oleh
SUPRIYO
NIM: 6117001
PROGAM PASCA SARJANA
JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
2018
DAFTAR ISI
BAB I
SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN MULTIPLE REPRESENTASI
( Model SiMaYANG )
Fokus studi
tentang pembelajaran bidang sains ( fisika, kimia, dan biologi ) sebaiknya
focus diarahkan kepada pemilihan yang menekankan pada pemberian pengalaman
belajar pada peserta didik agar mampu memiliki pemahaman makroskopik, (sub),
mikroskopik dan simbolik, melalui kegiatan belajar berbasis inkuiri, sehingga
dapat mengkaitakan dan menerapkan pada
konteks kehidupan nyata, pemilihan tersebut bertujuan agar guru dan dosen mampu membelajarkan sains
melalui interkoneksi diantara ketiga level representasi yaitu makroskopik, (sub
) mikroskopik dan simbolik. (Johnstone, 1993 ) dalam hal, pemahaman seseorang
terhadap sains di tentukan oleh kemampuan mentransfer dan menghubungkan antara
fenomena – fenomena makroskopik, (sub ) mikroskopik dan simbolik. makroskopik,
(sub ) mikroskopik dan simbolik. Upaya pemecahan masalah dalam sains sebagai
salah satu ketrampilan berfikir tingkat tinggi hanya dapat dilakukan melalui
penggunaan kemampuan representasi secara ganda ( multiple ) atau kemampuan peserta didik bergerak dari satu modus
representasi ke modus representasi yang lain.
A.
Sintaks Model Pembelajaran
Multiple Representasi ( Model SiMaYANG )
Model
pembelajaran Multiple Representasi merupakan sebuah model pembelajaran yang
menginterkoneksikan tiga level fenomena sains ( makro, (sub ) mikro, dan
simbolis ) dengan mempertimbangkan domain, pengajar (guru/dosen), peserta didik
( siswa / mahasiswa), dan interaksi dari
faktor-faktor kemampuan interpretasi peserta didik ( C, R, dan M).
dengan dengan mempertimbangkan
faktor-faktor interaksi R-C dan C-M,
maka dalam model pembelajaran
diperlukan C-R-M diperlukan
tahapan kegiatan imajinasi representasi. Hasil dari kedua tahapan tersebut
perlu di internalisasikan dalam pembelajaran melalui presentasi, tugas dan
latihan sebagai perwujudan hasil eksplorasi-imajinasi. Tahap terakhir adalah
tahap evaluasi sebagai tahap untuk mendapat umpan balik selama proses
pembelajaran. Oleh karena itu, kebaruan dari model pembelajaran ini di tunukkan
dengan adanya tahapan model pembelajaran
yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu orientasi, eksplorasi-imajinasi,
internalisasi, dan evaluasi. Tahapan – tahapan tersebut disusun secara
diagramatis berbentuk layang – layang dan disebut Si-Lima-Layang-layang yang
disingkat SiMaYang.
|
Tahap (fase)
|
Aktivitas Dosen dan Mahasiswa
|
|
Fase I:
Orientasi
|
1. Menyampaikan tujuan pembelajaran
2. Memberikan motivasi dengan berbagai fenomena sains yang terkait dengan
pengalaman peserta didik.
|
|
Fase II:
Eksplorasi-Imajinasi
|
1. Mengenalkan konsep materi dengan
memberikan beberapa abstraksi yang berbeda mengenai fenomena sains secara
verbal atau dengan demonstrasi dan juga menggunakan visualisasi: gambar,
grafik, atau simulasi atau animasi, dan atau analogi dengan melibatkan
peserta didik untuk menyimak dan bertanya jawab
|
|
|
2. Memberikan bimbingan pada peserta
didik untuk melakukan imajinasi representasi terhadap fenomena sains yang
sedang di hadapi secara kolaboratif(berdiskusi)
|
|
|
3. Mendorong dan memfasilitasi
diskusi untuk mengembangkan pemikiran kritis kreatif dalam membuat
interkoneksi di antara level-level fenomena sains dengan menuangkannya ke
dalam lembar kegiatan peserta didik. Misalnya: diberikan gambar sub-mikro
tentang reaksi, peserta didik dapat menyimpulkan peristiwa yang terjadi dan
peserta didik dapat membuat gambar sub-mikro tentang fenomena tersebut bila
diberikan informasi verbal tentang fenomena yang lain yang sempurna.
|
|
Fase III: Internalisasi
|
1. Membimbing dan memfasilitasi
peserta didik dalam mengartikulisasikan/mengkomunisasikan hasil pemikirannya
melalui presentasi hasil kerja kelompok.
|
|
B
|
2. Memberikan dorongan kepada
peserta didik lain untuk memberikan komentar atau menanggapi hasil kerja dari
kelompok peserta didik yang sedang presentasi.
|
|
|
3. Memberikan latihan atau tugas
untuk menciptakan aktifitas individu dalam mengartikulasikan imajinasinya
(latihan idividu tertuang dalam lembar kegiatan (LK) yang berisi pertanyaan
dan/atau perintah utuk membuat interkoneksi ketiga level fenomena sains dan/
atau berisi teka-teki silang belajar sains (TTBS).
|
|
Fase IV: Evaluasi
|
1. Memberikan reviu terhadap hasil
kerja peserta didik.
|
|
|
2. Memberikan tugas-tugas untuk
berlatih menginterkoneksikan ketiga level fenomena sains.
|
|
|
3. Melakukan evaluasi
diagnostic,formatif,sumatif.
|
Konsep
Multipel Representasi timbul karena kebutuhan siswa untuk mengeksplorasi dan
melakukan banyak tugas yang beragam yang melibatkan sejumlah besar informasi
yang bersifat abstrak yang bisa menyajikan kembali konsep – konsep yang telah
di pelajari melalui berbagai cara dan berbagai aksi dan ekspresi, seperti:
penyampaian melalui lisan, gesture, visual ( dengan gambar, animasi, simulasi,
grafik, pictogram, diagram, dll ), verbal ( tulisan, grafik, diagram, dan lain
– lain ) dan simbolik ( Lambang, rumus, perhitungan matematik, dan lain – lain
)
Model
pembelajaran SiMayang yang dikembangkan dengan tujuan untuk membelajarkan:
1. Konsep – konsep kimia yang bersifat abstrak
dengan melibatkan ineraksi ketiga fenomena kimia (makro,submikro,dan simbolik)
melalui berbagai representasi.
2. Keterampilan berpikir melalui daya imajinasi
dalam menumbuhkan model mental mahasiswa.
3. Rasa peraya diri sehingga menumbuhkan
keyakinan pada dirinya untuk berhasil dalam memahami fenomena – fenomena
abstrak dalam kehidupan nyata.
Buku ini di
susun ke dalam 5 (lima) bab pembahasan,yang pembahasannya dimulai dari
rasionalitas dari pengembangan model pembelajaran berbasis multipel repesentasi
yang dinamakan model SiMa Yang sampai dengan kajian empiris dari model
pembelajaran yang telahdikembangkan dan diakhiri dengan penutup.Metode
penulisan dari setiap Bab dilakukan melalui kajian empiris (penelitian), kajan
sumber bacaan (buku teks), dan jurnal ilmiah (nasional dan internasional).
Ada bab 1
pembahasan didasarkan pada hasil laporan penelitian yang dilakukan penulisan
sejak tahun 2009 hingga 2014, kajian beberapa jurnal nasional dan
internasional, serta kajian buku dari buku teks.pembahasan pada bab 2 lebih
banyak di tulis berdasarkan hasil kajian dari buku teks dan jurnal ilmiah. Pada
bab 3 dan 4, penulis lebih banyak menguraikan isi dari model pembelajaran
simayang yang didasarkan atas hasil penelitian yang telah dilakukan sejak tahun
2012 hingga 2014. Pada bab 5, penulis memaparkan bukti – bukti keberhasilan
dari model pembelajaran si mayang yang berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan baik penulis sendiri,
mahasiswa dan guru.
Kontruktivisme
berasal dari kata kontruksi yang berarti “membangun”. Ketika masuk ke dalam
kontek filsafat pendidikan maka kontruksi itu diartikan dengan upaya dalam
membangun susunan kehidupan yang berbudaya maju.
Gagasan
tentang teori ini sebenarnya buhkan hal baru, karena segala hal yang dilalui di
kehidupan merupakan himpunan dan hasil binaan dari pengalaman yang menyebabkan
pengetahuan muncul dalam diri seseorang.
Teori
kontruktivisme mendefinisikan belajar sebagai aktivitas yang benar-benar aktif,
dimana peserta didik membangun sendiri pengetahuannya, mencari makna sendiri,
mencari tahu tentang yang dipelajarinya dan menyimpulkan konsep dan ide baru
dengan pengetahuan yang sudah ada dalam dirinya.
Model
pemrosesan informasi membahas tentang peran oprasi-oprasi kognitif dalam
pengolahan.Inti dari perkembangan dalam pemrosesan informasi adalah
terbentuknya sistem pada diri seseorang yang semakin efisien untuk mengontrol
aliran informasi.ada dua model yang dapat digunakan untuk menjelaskan teori
pemrosesan informasi,yaitu model penyimpanan (store/structure model) dan model tingkat pemrosesan (level of processing).model penyimpanan
di kembangkan oleh Atkinson &shiffrin,sedangkan model tingkat pemrosesan
dikembangkan oleh Craik dan Lockhart (Solso,2008;163-196), kognisi manusia
dikonsepkan sebagai suatu system yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (Input ), Proses, dan keluaran ( Output).
Model umum teori dual coding
Teori dual
coding yang dikemukakan Allan Paivio (Paivio, 2007)
menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu
dari dua channel, yaitu channel verbal
seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal
image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini
dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu
bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi
tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses
informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses
informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Dual oding ini jika dikaitkan dengan bagaimana
seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini
mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan
pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior
knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran
yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior
knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang
memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga
pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami
informasi baru yang disampaikan.
Aplikasi teori
representasi visual dengan DCT = DUAL CODING THEORY ) telah memunculkan
beberapa hasil penelitian pengembangan model mental peserta didik. Istilah
model mental peserta didik. Istilah model mental banyak digunakan oleh para
peneliti bidang psikologi kognetif, namun akhir – akhir ini istilah itu banyak
juga di pakai oleh para peneliti bidang pendidikan, terutama dalam pendidikan
sains ( fisika, sains dan biologi ) dan matematika, pakar psikologi kognetif
johnson – laird ( solaz- portoles, 2007 ) menemukan.
BAB III
MODEL PEMBELAJARAN SiMaYang
Sebagaimana
telah disampaikan sebelumnya bahwa kebutuhan akan pembelajaran yang dapat di
akses oleh semua siswadengan berbagai latar belakakng kemampuan, salah satunya
adalah dengan melibatkan strategi pembelajaran berbasis multiple representasi.
Model pembelajaran dengan strategi tersebut di harapkan mampu menjebatani
kesulitan peserta didik dalam memahami fenomena-fenomena yang bersifat abstrak.
Tentu saja pembelajaran demikian merupakan pembelajaran yang mampu
menginterkoneksikan tiga level fenomena alam (makro, sub-mikro, dan simbolik).
Model
pembelajaran SiMaYang merupakan pembelajaran berbasis multipel representasi
yang dikembangkan dengan mengkombinasikan teori faktor interaksi (tujuh konsep
dasar) yang mempengaruhi kemampuan peserta didik untuk merepresantisan fenomena
sains (Schonborn dan Anderson, 2009) kedalam kerangaka model IF-SO (Waldrip,
2010). Tujuh konsep dasar tersebut yang telah diidentifikasi oleh Schonborn dan
Anderson (2009) adalah kemampuan penalaran peserta didik (Reasoning; R),
pengetahuan konseptual peserta didik (Conceptual; C); dan keterampilan memilih
mode representasi peserta didik (representatiaon modes; M). Faktor M dapat
dianggap berbeda dengan faktor C dan R, karena faktor M tidak bergantung pada campurtangan
manusia selama proses interpretasi dan tetap konstan keuali jika ER di
modifikasi, selanjutnya empat faktor lainnya adalah faktor R-C merupakan
pengetahuan konseptual dari diri sendiri tetang ER, faktor R-M merupakan
penalaran terhadap fitur dari ER itu sendiri, faktor C-M adalah faktor
interaktif yang mempengaruhi interpretasi terhadap ER, dan faktor C-R-M adalah
interaksi dari ketiga faktor awal (C-R-M) tang mewakili kemampuan seorang
peserta didik untuk melibatkan semua faktor dari model agar dapat
meninterpretasikan ER dengan baik.
Kerangka model
IF-SO berfokus pada isu-isu kunci dalam perencanaan pembelajaran suatu topic
tertentu (I dan F), dan peran guru/dosen dan peserta didik (siwa/mahasiswa)
dalam pembelajaran malalui pemilihan representasi selam topic tersebut di
belajarkan (S dan O). Model kerangka IF-SO merupakan kombinasi dari tiga
komponen pedagogic (domain, guru/dosen, dan peserta didik) yang di gambarkan
dalam bentuk triad yang saling berkaitan .Persepektif pembelajaran model triad,
proses pembelajaran sains menuntut keterlibatan berbagai triad yang meliputi
domain (D), konsepsi guru/dosen (TC), representasi guru/dosen (TR), konsepsi
peserta didik (SC), dan representasi peserta didik (SR), yang semuanya saling
mendukung satu sama lain. Model kerangka IF-SO yang bersifat teoritis tersebut
telah di kembangkan dan di aplikasikan dalam pembelajaran fisika kuantum oleh
Abdurrahman (2010). Dalam penelitiannya, Abdurrahman mendesain pembelajaran
model IF-SO menjadi beberapa lesson plan
untuk mengembangkan disposisi berpikir krirtis dan keterampilan generic sains.
Kerangka IF-SO belum di susun secara detail dalam bentuk sintak berurutan.
|
·
Fenomena alam ( makro, sub mikro, dan simbolik)
·
Tujuan Pembelajaran : untuk membangun Model mental
dan meningkatkan penguasaan konsep
|
|
Teori –
Teori yang melandasi pembelajaran sains.
|
|
Integrasi
teori Schonborn dan kerangka pembelajaran IF - SO
|
|
·
Teori belajar konstruktivisme
·
Teori pemrosesan informasi
·
Teori dual
coding
|
|
Teori
Pendukung
·
Representas
·
Mode entali
|
|
Tahap Eksplorasi
|
|
Tahap
Imajinasi
|
|
Tahap
Internalisasi
|
|
Tahap
Evaluasi
|
|
Tahap
Orientasi
|
|
R-C,C-M, R-M dan
C-R-M
|
|
R-M dan
C –R-M Dengan O
|
|
R-M dan
C –R-M Dengan S
|
|
R-C dan
C –M Dengan F
|
|
R.C dan
MDengan I
|
|
Model
pembelajaran yang melibatkan
fenomena makro, sub mikro, dan simbolik melalui berbagai
representasi
|
3.2 Karakteristik Model Pembelajaran SiMaYANG
Karakteristik
model pembelajaran berbaris multipel representasi yang dikembangkan dan di beri
nama model SiMaYang di rumuskan berdasarkan hasil kajian teori dan analisis
yang dilakukan pada tahap pendahuluan dan pengembangan . Model pembelajaran
SiMaYang disusun dengan mengacu pada ciri suatu model pembelajaran menurut
Arends, R. yang menyebutkan
setidak-tidak nya ada 4 ciri khusus dari model pembelajaran yang dapat di
gunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang di gunakan untuk mencapai
tujuan pembelajaran , yaitu:
1. Rasiona teoritik yang logis yang
di susun oleh perancang nya.
2. Landasan pemikiran tentang tujuan
pembelajaran yang hendak di capai danbagaimana peserta didik belajar untuk
mencapai tujuan tersebut.
3. Aktifitas guru/dosen dan peserta
didik (siswa/mahasiswa) yang di perlukan agar model tersebut terlaksana dengan
efektif.
4. Lingkungan belajar di yang di
perlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
BAB IV
Berdasarkan sintaks pembelajaran model SiMaYang yang telah lalu, maka untuk menarapkan model
SiMaYang dalam pembelajaran dikelas, harus terlebih dahulu melakukan persiapan
pembelajaran dengan menyusun perangkat
pembelajaran bai agar pembelajaran dengan model SiMaYang dapat berjalan dengan lancer dan kondusif.
Persiapan Pembelajaran yang dimaksud
meliputi: Penyusunan perangkat pembelajaran (Rencena Pembelajaran dan lembar
dan lembar kegiatan peserta Didik atau LKPD), media pendukung, dan instrument
evaluasi. Namun, sebelum melakukan penyusunan perangkat, media dan instrument
evaluasi, terlebih dahulu perlu di perhatikan hal – hal yang berkaitan dengan
bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan Model SiMaYang, yaitu mengenai
perencanaan, petunjuk pelaksanaan pembelajaran dengan Model SiMaYang,
pengelolaan kelas dan lingkungan belajar, serta pelaksanaan evaluasi.
Perencanaan
dalam melaksanakan pembelajaran dengan model SiMaYang meliputi antara lain:
4.1.1
Perencanaan Tujuan Pembelajaran
Sebelum menyusun perangkat pembelajaran
(RPP dan LKPD) hendaknya tujuan pembelajaran harus dirumuskan terlebih
dahulu pada setiap kali pertemuan dengan mengau pada indicator yang telah
ditetapkan.
4.1.2
Perencanaan aktivitas Peserta Didik yang
sesuai
Peserta didik
dilatih untuk melakukan imajinasi dengan mengunakan potensi Kognitifnya dalam
membangun model mental. yang perlu di
rancang dalam pembelajaran antara lain : mendengarkan, mengamati, Tanya jawab, mengumpulkan data, informasi, membayangkan
lalu mengambarkan atau membuat inter prestasi, diskusi, presentasi dan
melakukan transformasi.
4.1.3
Perencanaan perangkat pembelajaran dan media
pendukug
Sebagaimana
telah di kemukakan di atas bahwa persiapan pembelajaran yang pernting untuk di
lakukan adalah menyusun perangkat pembelajaran, yang meliputi: rencana
pembelajaran (RP), Lembar kegiatan peserta Didik (LKPD), dan instrument
evaluasi selain perangkat tersebut, dalam pembelajaran dengan mengunakan model
SiMaYang di perlukan bahan aaaaaaaaajar berupa buku teks yang sesuai, yaitu
buku teks yang di lengkapi dengan ilustrasi gambar sub-mikro tentang fenomena
sains . perangkat pembelajaran tersebut bersifat saling mendukung dan
melengkapi. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan operasionalisasi
dari sintaks dalam model pembelajaran SiMaYang. LKPD merupakan tuntunan bagi
peserta didik dalam melakukan imajinasi dan berlatih membuat transformasi
terhadap fenomena reoresentasi sains yang satu ke fenomena representasi sains
yang lain. Oleh sebap itu, LKPD memuat masalah-masalah yang berfungsi untuk
melatih pesertaa didik membangun model mental dan memperluas serta memperkuat
pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran yang sedang di pelajari.
Sunyono(2014) menyatakan bahwa masalah-masalah pada LKPD tersebut berupa
pertanyaan-pertanyaan berbentuk uraian yang menuntut peserta didik untuk
melakaukan proses mental dengan cara:
a.
Mengubah Representasi visual ke dalam representasi verbal
atau sebaliknya. Missal nya tentang persamaan-persamaan matematik , persamaan
kimia, konsep model atom, konsep probabilitas, energy,fungsi gelombang,system
peredaran darah, system pencernaan dan sebagai nya.
b.
Merepresentasi terjadinya reaksi, susunan electron dalam
orbital dari suatu atom, bentuk-bentuk orbital, dan sebagai nya dengan
menggambarkan representasi tersebut ke dalam representasi eksternal, baik
makro,simbolik,maupun (sub) mikro.
Di samping
guru/dosen harus menyiapkan perangkat pembelajaran sebagaimana yang di uraikan
di atas, guru/dosan juga harus meyiapkan media pendukung yang sesuai dengan topic yang akan di
bahas.Dalam hal ini, guru/dosen dapat mengunakan model-model berupa alat
peraga, model 2-D atau 3-D( statis atau dinamis) seprti ,model molekuler (
molimod), gambar / diagram sub-mikro, grafik, animasi, simulasi,dan lain-lain
atau menggunakan model yang diakses dari internet (webpage/weblog). Model-model
yang digunakan harus dapat membantu peserta didik dalam melakukan eksplorasi
dan imajinasi, sehingga peserta didik mudah dalam membangun model mental nya dan
memahami konsep-konsep yang sedang di pelajari.
Guru/dosen
dalam melaksanakan pembelajaran dengan model SiMaYang harus benar-benar dapat
mengembangkan keterampilan representasionalnya,sehingga dapat melakukan
pembelajaran dengan menginterkoneksikan ketiga level fenomena sains.oleh sebab
itu,sebelum model SiMaYang ini di terapkan dalam pembelajaran di kelas,
guru/dosen perlu berlatih melakukan interkoneksi diantara ketiggy a level
fenomena sains, melalui latihan imajinasi untuk melakukan interpretasi dan
mentransformasi fenomena sains dari level yang satu ke level yang lain.
Guru/dosen perlu berlatih membuat gambar-gambar sub-mikro yang menggambarkan
fenomena sains level molekuler untuk menjelaskan proses sains yang sebenarnya
terjadi. Di samping itu, guru/dosen juga berlatih melakukan interpretasi
terhadap representasi eksternal (berupa gambar/diagram sub-mikro, grafik,
animasi, simulasi, atau analogi) yang telah dibuat atau yang ada pada buku teks
atau yang ada pada media yang digunakan. Latihan-latihan trasformasi,
menggambar gambar sub-mikro, dan interpretasi terhadap representasi eksternal,
sangat diperlukan agar pembelajaran dengan model SiMaYang dapat berjaalan
dengan lancar dan meminimalisir miksonsepsi yang mungkin saja terjadi.
Di
samping berlatih dalam membuat interkoneksi ketiga level fenomena sains,
guru/dosen juga perlu melatih dirinya dalam menerpkan model pembeljaran
SiMaYang di kelas yang maliputi: penerapan sintaks, penerapan system social,
penerapan prinsip reaksi, dan pemberian bimbingan kepada peserta didik yang
memerlukan (Sunyono,2014; Sunyono dan Yulianti, 2014).Contoh latihan
interkoneksi diantara level fenomena sains (pada materi sains) dari level
sub-mikroskopis ke simbolik dan makroskopis:
Contoh
1. Gambar di bawah, merupakan gambar dari fenomena melokuler dari tiga larutan
elektrolit yang berbeda. Dalam hal ini adalah molekul air, dan adalah atom hidrogen. Coba tentukan gambar
manakah yang menunjukkan larutan asam, larutan basa, dan larutan garam? Berikan
penjelasan Anda! (Petunjuk: asam, basa, dan garam, dalam larutannya akan
terionisasi)
4.2.1
Penerapan Sintaks Model SiMaYang
Dalam
menerapkan model pembelajaran SiMaYang, setiap tahap pada sintaks harus
dioperasionalkan di dalam Rencana Pembelajaran(RP). Di dalam rencana
pembelajaran memuat topic yang dibahas., Standar Kompetensi, Kometensi Dasar,
Indikator, Tujuan Pembelajaran, Model dan Metode Pembelajaran yang digunakan,
serta scenario pembelajaran (Joyce & Weil, 1992). Oleh sebab itu, skenario
pembelajaran pada rencana pembelajaran model SiMaYang untuk topic yang bersifat
abstrak dengan beberapa contoh konkret, misalnya topik Stoikiometri, pada
pembelajaran sains harus mencangkup keempat fase (tahap) pembelajaran dengan
urutan: orientasi, eksplorasi-imajinasi, internalisasi, dan evaluasi. Namun,
untuk topic yang bersifat abstrak, misalnya pada materi sains topik Sruktur
Atom atau Ikatan Kimia, maka urutan fase dalam RP adalah orientasi, imajinasi –
eksplorasi, internalisasi, dan evaluasi.
a.
Tahap Orientasi
Pada tahap orientasi, aktivitas guru/dosen yang harus
dilakukan adalah menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi
dengan memberikan gambaran tentang fenomena sains yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari, sehingga peserta didik dapat lebih termotivasi dalam mempelajari
sains (Sunyono, 2012 dan 2014).Pemberian motivasi ini dapat dilakukan melalui
reviu materi pembelajaran minggu sebelumnya dan/atau pemberian
pertanyaan-pertanyaan untu mengetahui pengetahuan awal peserta didik yang
berhubungan dengan topik yang akan dibahas dan merupakan peristiwa-peristiwa
yang dijumpai dalam kehidupan manusia. Misalnya ketika guru/dosen akan
membelajarkan kimia Topik Stoikiometri, guru/dosen terlebih dahulu menyampaikan
tujuan pembelajaran. Selanjutnya, guru/dosen tersebut memberikan pertanyaan
yang diawali dengan informasi pendahuluan sebagai berikut:
Saat kita
membeli apel atau beras, kita selalu mengatakan kepada penjual berapa kilogram yang akan
kita beli. Begitu juga, ketika kita akan membeli bensin, kita akan mengatakan
sekian liter. Untuk menyatakan jarak, kita menggunakan ukuran meter. Bagaimana
denagn ukuran jumlah zat atau banyaknya materi yang terlibat dalam satu reaksi
kimia?”
Atau dapat
pula dengan didahului pertanyaan, lalu diberikan informasi penting yang terkait
dengan pertanyaan tersebut.
·
Tahukah kalian dengan kantung udara untuk keselamatan
pengemudi mobil?
·
Bahkan kimia apa saja yang umumnya dikandung dalam
kandung udara tersebut?
·
Apa yang terjadi ketika kantung udara itu mengembang?
Hukum fisika apa yang berlaku?
Informasi:
Desainer kantung udara menggunakan prinsip stoikiometri dan hukum gas untuk
mengetahui beberapa banyak gas generator yang dibutuhkan untuk menghasilkan gas
yang ukup dalam kantung udara.
Dengan pertanyaan
seperti ini diharapkan mampu merangsang peserta didik untuk menelusuri
informasi tentang kantung udara dan hubungannya dengan meteri yang sedang
dibahas melalui buku teks, webpage
dan/ atau webblog. Dengan demikian,
pada tahap orientasi ini hendaknya sudah muncul interaksi antara guru/dosen
peserta didik dan interaksi sesama peserta didik melalui Tanya jawab yang
difasilitasi oleh guru/dosen.
b.
Tahap Eksplorasi – Imajinasi
Tahap
eksplorasi – imajinasi adalah tahap pembelajaran yang dirancang oleh guru/dosen
yang memungkinkan peserta didik membangun pengetahuan melalui peningkatan
pemahaman terhadap suatu fenomena dengan cara menelusuri informasi malalui
berbagai sumber, selanjutnya guru/dosen menciptakan aktivitas peserta didik
dalm meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif berdasarkan pengetahuan
yang telah diperoleh dengan melakukan imajinasi representasi (Sunyono, 2012 dan
2014).
Pada tahap
ini, pembelajaran lebih ditekankan pada konseptualisasi masalah-masalah sains
yang sedang dihadapi berdasarkan kegiatan diskusi, eksperimen laboratorium/
demonstrasi, dan pelacakn informasi melalui buku teks atau internet (weblog atau webpage). Stategi yang
digunakan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan menerapkan
strategi belejar aktif (Sunyono, 2014). Oleh sebab itu,pada tahap eksplorasi
konseptual, aktivitas guru/dosen yang harus dilakukan dalah mengenalkan konsep
yang akan dibahas secara verbal dengan bantuan madia visual (gambar sub-mikro
atau animasi) atau demonstrasi.
Pengenalan konsep
ini lebih dititik beratkan pada awal konsep dengan menunjukkan tiga level
fenomena sains (makro, sub-miko dan simbolik) atau dua level fenomena
(sub-mikro dan simbiolik) melalui gambar bub-mikro atau diagram atau grafik
atau animasi. Pengenalan konsep ini bukan berate guru/dosen memberikan
penjelasan secara detail terhadap topic yang akan dibahas, namun merupakan
pengantar pendahuluan yang dapat menciptakan rasa ingin tahu peserta didik
dalam menelusuri informasi melalui berbagai sumber.Selama guru/dosen memberikan
pengenalan konsep, peserta didik diberikan kesempatan untuk mengajukan
pertanyaan/komentar/tanggapan terhadap apa yang disampikan guru/dosen. Setelah
guru/dosen memberikan pengenalan konsep awal tentang fenomena sains yang akan
dihadapi oleh peserta didik, guru/dosen memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk memperdalam dan memperluas informasi yang telah diberikan melalui
buku teks atau website/webblog.
Penelusuran informasi pada tahap ini dilakukan oleh peserta didik seara
berkelompk. Pengelompokan peserta didik dilakukan pada tahap awal
pembelajaran(tahap orientasi), atau ditetapkan pada pertemuan awal
pembelajaran,
Pada tahap
ini, selain peserta didik memperoleh informasih dari guru/dosen dan memperoleh
pengetahuan dari penelusuran informasi, peserta didik juga di beri kesempatan
untuk melakukqan pembayangan mental
(imajinasi) terhadap representasi yang sedang di hadapi, sehingga dapat
mentransformasikan fenomena representasi tersebut dari level yang satu ke level
yang lain. Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat di
lihat dari bagaimana peserta didik melakukan interpretasi dan transformasi
terhadap representasi fenomena sains yang sedang di hadapi. Kemampuan berpikir
kritis dan kreatif dapat di lihat dari bagaimanq peserta didik dapat melakukan
interpretasi terhadap representasi yang di hadapi dengan membuat suatu
kesimpulan,komentat, atau melakukan perhitungan matemastis, sedangkan kemampuan
berfikir kreatif, ketika peserta fidik dapat melakukan transformasi representasi
dari level sub-mikro ke level makro dan simbolik atau sebaliknya. Sebagai
contoh: di berikan gambar sub-mikro tentang fenomena sains (reaksi kimia atau
bergeraknya elektron pada orbital tertentu) , peserta didikdapat menyimpilkan
peristiwa kimia yang terjadi dan peserta didik dapat membuat gambar sub-mikro
tentang fenomena sains bila di berikan informasi verbal tentang fenomena sains
yang lain yang serupa. Pada tahap inilah,model mental peserta didikdpat di
bangun melalui kegiatan yang imajinatif dan kreatif.
4.2.2
Penerapan Sistem Sosial
Penerapan
system social pada model pembelajaran SiMaYang di fokuskan pada peran dan
hubungan antara guru/dosen dengan peserta didik dan peserta didik dengan
peserta didik lain serta norma-norma yang berlaku selama pelaksanaan
pembelajaran (joyce dan Weil, 1992). Penerapan sisten sosial dalam model
pembelajaran SiMaYang dapat di uraikan sebagai berikut:
a.
Interaksi
antara peserta didik dengan peserta didik akan terjadi terutama pada saat
kegiatan diskusi kelompok dan presentasi, tetapi dapat saja dikondisikan agar
terjadi sejak awal pembelajaran. Hal ini terjadi karna guru/dosen lebih
menitikberatkan pada keterlibatan
peserta didik secara maksimal. Dengan demikian, interaksi antar peserta didik
yang lebih leluasa diberikan pada waktu tahap eksplorasi-imajinasi dan
internalisasi.
b.
Pada tahap eksplorasi-imajinasi,interaksi yang terjadi
lebuh dititikberatkan kepada interaksi anatara peserta didik dengan guru/dosen
dalam menggali pengetahuan melalui buku teks dan/atau website /webblog.Pada
tahap ini peserta didik diberi kesempatan dan peluang untuk bertanya kepada
guru/dosen bila menemui kesulitan dalam memehami isi buku teks atau isi dari website /webblog.Intereaksi antar peserta didik pada tahap ini terjadi
ketika guru/dosen memberikan kesempatan kepada peserta didik lain untuk
memberikan jawaban atau komentar terhadap pertanyaan temannya.
4.2.3
Penerapan Prinsip Reaksi
Sebagaimana
telah diungkapkan bahwa prinsip reaksi pada dasarnya merupakan prinsip yang
berkaitan dengan bagaimana guru/dosen memperhatikan dan memperlakukan peserta
didik,termasuk dalam memberikan respon terhadap pertanyaan,jawaban,tanggapan,
atau apa yang dilakukan peserta didik (Joyce dan Weil,1992) . pada penerapan
nya dikelas, guru/dosen harus selalu memberikan bantuan kepada peserta didik
agar mampu mengorganisasikan pengetahuan dan keterampilan dalam membangun model
mental dan memperoleh pengetahuan sains (Sunyono,2014;Sunyono dan
Yulianti,2014).Pada setiap tahap kegiatan pembelajaran, guru/dosen harus selalu
mengamati, membumbung,mengarahkan, dan memberikan penguatan sesegera mungkin
ketika ada peserta didik yang memberikan tanggapan atau komentar atau
pertanyaan. Perlu menjadi perhatian bahwa pemberian bantua,
bimbingan,arahan,dan penguatan, guru/dosen harus adil terhadap peserta didik.
Kontak mata yang di berikan guru/dosen pada peserta didik harus dapat
memberikan motivasi kepada seluruh peserta didik.Perlakauan guru/dosen terhadap
peserta didik yang mengajaukan pertanyaan / tanggapan dan mengungkapkan idenya
harus dalam bentuk respon yang bersifat mengarahkan,membimbing, memotivasi, dan
membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik untuk terus belajar dan menggali
pengetahuan melalui berbagai sumber.
Keberhasilan dalam penggunaan model
pembelajaran SiMaYang ini ditentukan oleh kemampuan seorang guru/dosen dalam
merencanakan kegiatan pembelajaran secara terstruktur, sistematis,dan tepat.Di
samping itu, juga ditentukan oleh kesiapan lingkungan belajar dan perangkat
mendukung pebelajaran termasuk media pembelajaran yang diperlukan untuk
mendukung setiap aktivitas guru/dosen dan peserta didik dalam setiap
pelaksanaan tahap-tahap dalam sintaks.
Dalam
rangka menciptakan lingkungan belajarb yang kondusif dan pengelolaan kelas,
pertama-tama guru/dosen harus terlebih dahulu memeriksa kesiapan peserta didik
dalam mengikuti pembelajaran. Ini dilakukan di awal pembelajaran. Guru/dosen
mengawali aktivitas pembelajaran dengan melakukan orientasi untuk mengetahui
pengetahuan awal peserta didik. Namun, sebelum melakukan orientasi, guru/dosen
perlu memeriksa kesiapan kelasnya,misalnya kesiapan alat pembelajaran (peserta
LCD) dan kebersihan papan tulis.Kesiapan peserta didik juga perlu diperiksa,
apakah peserta didik secara mental dan fisik siap menerima pembelajaran,
misalnya: apakah para peserta didik sudah duduk dikursinya masing-masing,
menyiapkan buku atau laptop, alat/media/peralatan belajar lain yang diperlukan
dalam pembelajaran dengan model SiMaYang. Jika peserta kelas dirasakan cukup,
guru/dosen baru memulai mengawali kegiatan pembelajaran.
4.3.1
Mengatur Pengelompokan Peserta didik
Untuk
mencapai tujuan pembelajaran dengan
model pembelajaraan SiMaYang
diperlukan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik berinteraksi
dengan temannya. Dalam hal ini, posisi tempat duduk dan pengelompokan peserta
didik perlu di atur sedemikian rupa.
Pengelompokan
peserta didik padamodel SiMaYang dilakuakan berdasarakan jumlah peserta didik,
dimana setiap kelompok maksimal beranggotakan 4-6 orang. Pengelompokan
dilakukan secara acak dan heterogen dengan pemerataan pserta didik yang
memiliki kemampuan awal tinggi dan seluruh kelompok. Selanjutnya bersama-sama
peserta didik melakukan pemilihan anggota kelompok secara acak,dengan tetap
memperhatikan keberagaman kelompok.
Untuk
memudahkan dalam panyebutan kelompok dan anggota kelompok ,maka setiap Kelompok
diberi nama menggunakan inisial. Misalnya dalam pembelajaran kimia dapat di
gunakan nama golongan dalam sistem periodik unsur , yaitu kelompok
IA,IIA,IIIA,IVA,VA,dan VIA.
4.3.2
Mengatur Jalannya Diskusi Kelompok Atau
Komunikasi Peserta Didik
Pada
model pembelajaran SiMaYang, peserta didik bekerja secara kelompok pada tahap eksplorasi-imajinasidipandu
oleh guru/dosen, dalam hal ini guru/dosen terlebih dahulu menyampaikaninformasi
pendahuluan tentang materi yang akan di bahas dan memberikan permasalahan sains
kepada peserta didik melalui tayangan powerpoint
(pada tahap eksplorasi)yang dibantu dengan media animasi atau dengan melakukan
demonstrasi. Kemudian peserta didik di minta melakukan penelusuran informasi
yang lebih mendalam dan luas tentang fenomena sains yang di sampaikan oleh
guru/dosen. Penelusuran informasi di lakukan melalui buku teks dalam melalui
buku teks yang telah disediakan dalam bentuk soft copy atau melalui website/webblog. Pada kegiatan
inipeserta didik diminta untuk saling membantu, saling mengajukan ide/gagasan
atau komentar atau tanggapan terhadap fenomena yang di hadapi berdasarkan hasil
penelusuran informasi.
4.3.3
Mengatur Kegiatan Individu
Kegiatan
individu dilakukan pada tahap internalisasi dengan tujuan untuk melihat
kemajuan belajar peserta didik setelah
sekitar ¾ waktu pembelajaran berlangsung . Pada kegiatan ini , peserta didik
diminta untuk duduk sesuai tempat duduk nya masing-masing dan tidak harus berada pada kelompoknya
.Dalam kegiatn individu ini , peserta
didik diminta untuk membuka LKPD
individu untuk diselesaikan secara mandiri.Peserta didik tidak
diperkenankan untuk berdiskusi atau
memberikan jawaban kepada temannya .Bila
terdapat hal-hal yang sulit dipahami oleh peserta didik dalam melakukan
interpretasi dan /atau transformasi antara level fenomena sains,peserta didik
diperbolehkan bertanya kepada guru/dosen .Respon/jawab dari guru/dosen atas
pertanyaan perserta didik diberikan secara klasikal,namun guru/dosen juga dapat
melemparkan pertanyaan peserta didik tersebut kepada peserta didik lainnya.
Dalam hal ini,guru/dosen harus mengatur tempo komunikasi antara peserta didik
atau peserta didik-guru/dosen,sehingga tidak terjadi pemborosan waaktu.
4.3.4
Mengatur Partisipasi Peserta Didik
Sebagaimana
diungkapkan diatas bahwa dalam model pembelajaran SiMaYang aktvitas
pembelajaran sedemikian rupa,sehingga diharapkan tidak ada peserta didik yang
pasif. Namun bisa saja kemungkunan ditemukannya peserta didik yang pasif,baik
selama kgiatan individu,kelompok, maupun pada saat kegiatan presentasi. Salah
satu cara yang dapat digunakan untuk mengantisipasi munculnya peserta didik
yang pasif adalah memanfaatkan “zona aktif” . Zona aktif adalah suatu daerah
didalam kelas dimana terjadi kegitan belajar yang aktif dari peserta didik
dalam berpartisipasi dalam pembelajaraan. Bila terdapat suatu undividu peserta
didik yang pasif,guru/dosen dapat meminta peserta didik tersebut untuk menepati
(pindah) ke zona aktif tersebut, atau jika tidak memungkinkan meindah peserta
didik guru/dosen yang harus mendatangi peserta didik tersebut untuk menciptakan
“aktivitas pesereta didik” melalui arahan,bimbingan,fasilitasi, dan penguatan
atau fanishmen yang dapat membangkitkan motifasi belajar peserta didik
Penilaian dalam pembelajaran dengan model
SiMaYang yang tidak semata-mata diperoleh pada tes akhir pembelajaran beberapa
materi pokok bahasan selesai disampaikan dan dibahas oleh peserta didik.
Penilaian juga dilakukan pada setiap pelaksanaan pembelajaran, yaitu penilaiaan
proses pembelajaran.
Untuk mengetahui kemampuan kemampuan peserta
didikdalam mencapai tujuan pembelajaran, maka dilakukan tes prestasi pada
setiap akhir pokok bahasan. Tes prestasi dilakukan untuk mengetahui sejauhmaana
penguasaan konsep pesertabdidik setelah mengikuti pembelajaran pada pokok
bahasan tertentu.Disamping tes prestasi, juga dilakukan tes model mental untuk
mengetahui sejauhmana model mental peserta didik terhadapi konsepb sains yang
telah di pelajari, model mental ini merupakan gambaran proses berpikir peserta
didik menggunakan pola berfikir tingkat tinggi.Tes model mental merupakan teks
dalam bentuk uraian (essay ) yang
memuat konsep-konsep sains,yang dilengkapi dengan gambar-gambar
sub-mikro,grafik,diagram,dan lain-lain(Park,2006;Sunyono,et al.,2015b). Tes
model mental ini di lakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan peserta
didik dalam melakukan transformasi dan
interpretasi terhadap representasi eksternal yang di hadapi tentang
fenomena-fenomena sains (makro,sub-mikro,dan simbolik). Tes model mental diberikan
sebanyak duakali untuk setiap pokok bahasan dengan jumlah soal disesuaikan
dengan indicator dan alokasi waktu yang disediakan untuksetiap kali tes.Tes
model mental diberikan pada setiap akhir pokok bahasan selesai dibahas.
Penilaian hasil tes model mental menggunakan rubrik yang telah disediakan oleh
guru/dosen.
Untuk membantu peserta didik dalam belajar digunakan LKPD .
LKPD berisi konsep-konsep sains dengan interkoneksi dengan level-level fenomena sains. Untuk setiap pokok
bahasan disediakan dua maam LKPD , yaitu
LKPD untuk kelompok dan LKPD untuk aktivitas individu. Ciri khas LKPD pada
model pembelajaran SiMaYang adalah
menonjolkan interkoneksi antara
level makro ke sub-mikro dan simbolik atau sebaliknya . LKPD dalam
pembelajaran dengan model SiMaYang ini
di susun dengan tujuan untuk melatih
peszerta didik menggunakan imajinasinya dalam membangun model mental,
sehingga dapat melakukan transformasi
dari mode representasi
sub-mikroskopis ke mode
representasi makroskopis dan simbolik, atau sebaliknya (Sunyono,2014).
BAB V
KAJIAN EMPIRIS MODEL SIMAYANG
Penilaian
terhadap keterlaksanaan model pembelajaran diukur melalui keterlaksanaan RPP
dan dilakukan oleh observer yang
mengamati jalannya pembelajaran yang disesuaikan dengan RPP yang telah
disusun. Hasil observasi baik pada saat uji coba terbatas kemampuan pada tahap
pengujian model berbagai provinsi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan
sintaksis, sistem sosial, dasn prinsip reaksi dalam pembelajaran, dengan model
SiMaYang memiliki tingkat keterlaksanaan yang tinggi hasil ini menunjukan bahwa pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakaan, model SiMaYang berlangsung sesuai dengan
prinsip-prinsip model pembelajaran yang telah dikembangkan Penilaian terhadap
kemenarikan model pembelajaran SiMaYang telah dilakukan melaui dari tahap uji
coba terbatas sampai tahap pengujian model di beberapa provinsi. Kemenarikan
pelaksanaan model pembelajaran SiMaYang dditinjau dari aktivitas peserta didik
dalam mengikuti pembelajaran dengan model SiMaYang, tangkapan/respon peserta
didik terhadap pelaksanaan pembelajaran, dan minta belajar peserta didik
setelah mengikuti pelajaran dengan menggunakan model SiMaYang, Hasil pengamatan
terhadap aktivitas pesertav didik pelaksanaan pembelajaran dengan model
SiMaYang menunjukkan bahwa terhadap perbedaan aktivitas yang cukup mencolok
terutama terhadap aktivitas memperhatikan dan mendengarkan penjelasan
guru/dosen teman yang terus menurun sejak pertemuan 1 sampai pertemuan terakhir
dari materi pokok yang dibelajarkan. Ini menunjukkan bahwa peserta didik lebih
suka aktiv mengeksplorasi sendiri melalui diskusi dengan teman atau membuka
buku teks dan aktif melakukan imajinasi bersama kelompok. Demikian pula
aktivitas yang dilakukan peserta didik yang telah relevan dengan kegiatan
pembelajaran,seperti memainkan HP,ngobrol atau membuka atatan lain terus
menurun dengan cukup tajam sejak pertemuan awal sampai pertemuan akhir dalam
setiap pembelajaran materi pokok tertentu.
Pembelajaran
sains dengan menggunakan model SiMaYang dilakukan dengan tujuan utuk
meningkatkan kemampuan berpikir tinggkat tinggi peserta didik tentang
stiokiometri melalui pembentukan model mental peserta didik. Kemunculan model
mental peserta didik tergambar dari kemampuan peserta didik dalam
menginterpretasikan ketiga level
fenomena representasi sains yang dapat dilihat dari jawaban-jawaban peserta
didik dalam bentuk jawaban verbal, matematis/simbolis,dan gambaran visual
ditingkat molekuler (submikroskopis). Hasil kajian ini menunjukan bahwa model
mental peserta didik telah terbentuk dengan baik Dalam hal ini sebelum
pelaksanaan pembelajaran dengan model SiMaYang pada kelas eksperimen, model
mental peserta didik berada pada kategori”buruk sekali”, namun setelah
pelaksanaan dengan model SiMaYang, model mental peserta didik menigkat menjadi
berkategori sedang,baik,dan baik sekali Terbentuknya model mental peserta didik
menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta didik dalam memahami
representasi makroskopik,submikroskopis, dan simbolik, serta mampu melakukan
interpretasi dan transformasi diantara ketiga level fenomena sains (sains)
sebagaiman dilaporkan oleh chittleborough dan treagust (2017), Coll (2008),
Devetak, et al.(2009), dan
Davidowizth, et al . (2010).
Kajian
empiris dalam pembelajaran sais dengan menggunakann model SiMaYang menghasilkan
fakta bahwa model SiMaYang mampu meningatkan penguasan konsep peserta didik
dengan N-Gain kategori
“sedang”(Afdilah,2015;Fauziah,2015;Hananto,2015;Izzati,2015;Sunyono,2014 dan
2015b). Hasil kajian empiris dengan analisasis statistic menunjukkan adanya
perbedaan yang signifikan pada rerata N-Gain
penguasan konsep antara kelas eksperimen dengan kelas kontrolan
(Sunyono,2012,2014,2015b). Hasil kajian empiris juga menunjukkan bahwa model
pembelajaran SiMaYang, mampu mensejajarkan peserta didik dengan kemampuan awal
“rendah” dengan peserta didik berkemampuan awal “sedang” dan “tinggi” dalam
meningkatkkan penguasaan konsep kimia, terutama untuk topik-topik baik yang
bersifat abstrak maupun yang matematis . Dengan demikian , model
pembelajaran ini sangat cocok
mempelajarkan topic-topik yang memiliki karakteristik yang sama, yaitu
abstrak,matematis, dan analitis, seperti stoikiometri, struktur atom, ikatan
kimia kesetimbangan kimia listrik dan
magnet, energi, sistem organ, genetika,atau topic-topik lainnya yang banyak
mengadung fenomena (sub) mikroskopis.
Kelebian
Dari Model Pembelajaran Sima Yang Antara Lain:
1.
Model Pembelajaran Sima Yang Mampu Meningkatkan Kualitas
Proses Pembelajaran Yang Di Tujukan Dengan Munculnya berbagai Aktivitas
Pembelajaran. Pada Pembelajaran Sima Yang Dominasi Guru/Dosen Dalam
Pembelajaran Sima Yang Dapat Di Minimalkan Dan Memberikan Peran Guru /Dosen
Sebagai Fosilitator Dan Midiator
2.
Model Pembelajaran Simayang Merupakan Model Pemkbelajaran
Yang Menyenangkan.Hasil Kajian Empiris Menunjukkan Lebih Dari 80% Peserta Didik Berikan Respon Positif Dan Senang Dengan
Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan Mode Simayang.
3.
Model Pembelajaran Simayang Mampu Membangun Model Mental
Peserta Didik Dalam Upaya Memahami Materi Pembelajaran Kearah Model Mental
Dengan Kategori ”Baik” Atau Dengan Karakteristik ”Konsensus” Dan Baik Sekali dengan
Karakteristk target, ”Serta Peningkatan Model Mentel Tersebut Lebih Tinggi
Dibanding Pembelajaran Konfesional.
4.
Model pembelajaran SiMaYang
memiliki kolaboratif, koopereatif, dan imajinasi yang di tuang dalam fase
eksplorasi – imajinasi dan internalisasi dapat di jadikan alternative model
pembelajaran yang mampu mensejajarkan berserta peserta didik berekemampuan awal
rendah dengan peserta didik berkemampuan awal sedang dan tinggi dalam membangun
model mental dan meningkatkan penguasaan konsep.
5.
Model pembelajaran SiMaYang
dapat dipandang sebagai model “terpadu” yang mengabunggkan media TIK dengan
berbagai fenomena kimia dan menggabungkan media tersebut dengan berbagai
aktifitas peserta didik, aktifitas guru/dosen, interaksi antar peserta didik,
dan interaksi antar guru/dosen dengan peserta didik.
6.
Model pembelajaran SiMaYang mampu menciptakan lingkungan
belajar yang kaya akan aktifitas pembelajaran, baik yang bersifat individual
maupun yang bersifat kolaboratif, sekaligus mampu membelajarkan pada peserta
didik arti pentingnya kerja sama dan menghargai hasi kerja orang lain.
7.
Model pembelajaran SiMaYang
mampu memberikan dorongan atau motivasi kepada peserta didik untuk mengasah
kemampuan imajinasinya dalam memahami fenomena yang bersifat abstrak. Kekuatan
imajinasi peserta didik dalam pembelajaran dengan model SiMaYang mampu
meningkatkan kemampuan dalam melakukan interpretasi dan transformasi ketiga
level fenomena kimia.
Disamping
memiliki kelebihan, model pembeelajaraan SiMaYang ternyata juga memiliki
beberapa keterbatasan, antara lain:
a.
Model peembelajaran SiMaYang hanya mampu meningkatkan
model mental peserta didik dengan N-Gain berkategori “sedang”. Mayoritas
model mental yang dapat dibangun adalah model mental dengan kategori ‘’baik’’
atau model mental dengan karakteristik ‘’konsensus’’, sedangkan model mental dengan kategori ‘’
sangat baik’’ atau model mental ‘’target’’ dapat ditumbuhkan (pada kisaran
antara 10-25%) (sunyono,2014 dan 2015b). Hal ini disebapkan untuk menumbuhkan model mental ‘’target’’
(kategori ‘’sangat baik’’) memerlukan waktu yang tidak singkat dan perelu
latihan terus-menerus.
b.
Pelaksanaan pembelajaran dengan mengunakan model SiMaYang memerlikan infrakstruktur yang
memadai ( seperti listrik, fasilitas internet, dan computer). Seringnya listrik
padam pada saat pembelajaran dapat menjadi hambatan keterlaksanaan dan
keeeberhasilan pembelajaran dengan model SiMaYang
.
c.
Pelaksanaan pemelajaran dengan model SiMaYang memerlukan
kesiapan fasilitas jaringan internet dengan kapasitas dan kecepatan yang
memadai sehingga dapat di akses oleh semua peserta didik pada saat bersamaan.
Lambatnya akses internet menjadi hambatan yang sangat berarti dalam
pembelajaran dengan menggunakan model SiMaYang
.
d.
Model pembelajaran
SiMaYang yang mengharuskan pengguna model memiliki kemampuan IT yang cukup
baik. Kurangnya kemampuan IT dari pengguna
model dapat menjadi hambatan
keterlaksanaan model pembelajaran SiMaYang
.
e.
Membutuhkan waktu yang cukup lama dalam menyiapkan
perangkat pembelajaran dan jika tidak dipersiapkan dengan baik, pembelajaran
dapat menyita waktu yang cukup lama.
Berdasarkan
hasil pengembangan model pembelajaran SiMaYang yang paradigma pembelajaran
dengan pendekatan saintifik, terlihat jelas bahwa model pembelajaran SiMaYang
merupakan model pembelajaran masa depan. Meskipun sudah di lakukan penelitian
selama 5 tahun, model pembelajaran SiMaYang saat ini masi terus di teliti
keekfetifannya dalam pemelajaran. Ditinjau dari karakteristiknya model
pembelajaran SiMaYang ini dalam pengembangan awalnya telah mengantisipas
perubahan kurikulum ke arah optimalisasi
daya kreativitas peserta didik,
sebagaimana kurikulum 2013 debgan paradigma pembelajaran dengan pendekatan
saintifik. Telah dikemukakan di atas bahwa model pembelajaran berbasis multiple
repsesentasi yang bernama SiMaYang merupakan model pembelajaran yang menekankan
paada interkoneksi tiga level fenomena sains, yaitu level (sub) mikro yang
bersifat abstrak, level simbolik, dan level makro yang bersifat nyata dan kasat
mata.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Lloyd W. Dull, Supervisio: School Leadership Handbook, Columbus, Ohio,
Charles E.Merril, 1981, 110.
2.
Ben M. Harris, Improving
Staff Performane through In-Service Education, Boston, Allyn and Bacon,
1980, 24-25.
3.
E. Lawrence Dale, “What
Is Staff Development?” Educational Leadership 40, no. 1 (October 1982): 31.
4.
Thomas J. Sergiovani and Robert J. Starratt, Supervision: Human Perspectives, 2d ed.,
New York, McGraw-Hill, 1979, 290-291.
5.
John T. Lovell, “Instructional
Sepervision: Emerging Perspective, “ in
A. W. Sturges, chairman, The Role
and Responsibilities of Instructional Supervisors, Report of the ASCD
Working Group on the Roles and
Responsibilities of Supervisors, Alexandria, Va., Association for Supervision and Curriculum Development, October 1,
1978, 43.
6.
Harris, Improving
Staff Performance through In-Service Education, 30. See also Wagstoff and
McCullough, “Inservie Educators: Education’s Disaster Area,” in Administrators’ Handbook, Chicago,
Midwest Administration Center, University of Chicago. May 1973.
7.
Fred H. Wood and Steven R. Thompson, “Guidelines for Better Staff Development,” Educational Leadership
37, no. 5 (February 1980):374.
8.
Harris, Improving
Staff Performance through In-Service Education, 33. See Gordon Lawrence,
Dennis Baker, Patricia Elzie, and Barbara Hansen, Patterns of Effective
In-Service Education, Gainesville. Fla., College of Education, University of
Florida, 1974.
9.
Harris, Improving Staff Performance through In-Service
Education, 36. See Don Proctor MeLendon, “A Delphi Study of Agreement and
Consensus among Selected Educator Groups in Texas Regarding Principles
Underlying Effective Inservice Education,”doctoral dissertation , Austin, Tex.,
University of Texas, 1977.
10. Harris, Improving Staff
Performance through In-Service Education, 36. See Francis J. Reardon.
“Participant Survey of Pennsylvania In-service,” NCSIE Inservice, Syracuse,
N.Y, College of Education, Syracuse University, November 1977, 9-10.
11. Harris, Improving Staff Performance through In-Service Education, 36-37.
See Jack L. Brimm and Daniel J. Tollett, “How
Do Teachers Fell about In-service Education?” Educational Leadership 31,
no. 6 ( March 1974): 521-524.
12. David W. Champagne, “Does Staff Development Do Any Good?”
Educational Leadership 37, no. 5 (February 1980): 401-402. See “An Excrcise in
Freedom: A Place Where Test Scores Appear
to Be Rising,” in The Test Score Decline, L. Lipsitz, ed., Englewood Cliffs, N.
J., Educational Technology Publications, 1977.
13. Champagne, 402-403. See ERIC
report by William P. Ward, ERIC ED 119387 + EA 008045.
14. Champagne, 403. See David N. Aspy
and Flora N. Roebuck, “From Humane Ideas
to Human Technology and Back Again Many Times,” Education 95, no. 2 (Winter
1974): 163-171.
15. Champagne, 403.
16. Lovell, 35.
17. John Dewey, The Sources of a Science of Education, Ney York, Liveright,1929,
17.
18. Daniel Tanner and Laurel N.
Tanner, Curriculum Development: Theory into Practice, 2nd ed., New York,
Macmillan, 1980,103.
19. Roy A . Edelfelt, ‘’Critical Issues In Developing Teacher
Centers,’’ Phi Delta Kappan 63, no.
(February 1982): 403.
20. Harris, Improving Staff Performance throung
In-Service Education, 37 .
21. Toni Sharma, “Inservicing the Teachers, “ Phi Delta Kappan 63, no . 6 (February
1982): 403.
22. Fred H. Wood , Steven R. Thompson,
and Sister Frances Russell, “Designing
Effective Staff Development Programs, “ in Staff Development/Organization
Develoment, 1981 Yeatbook, Alexaandria, Va., Assoociation for Supervision and
Curriculum Development, 1981 , 61-63. See also slinghtly revised vcrsion in
Fred II. Wood, Frank O. McQuarric , Jr., and Steven R. Thompson “ Educational
Leadership 40, no. I (October 1982): 28 -29.
23. Leonard C. Burrello and Tim
Orbaugh, “Reducing the Discrepancy
between the Known and the Unknown in Inservice Education, “ Phi Delta
Kappan 63, no. 6 (February 1982): 385-386. See Patricia P. Keils et al.,
Quality Practice Task Force Final
Report, Bloom-ington, Ind., National Inservice Network, 1980, and
Patricia J. Jamison, The Development and
Validation of a Conceptual Model and Quality Practices Designed to Guide the
Planning, Implementation, and Evaluation of Inservice Education Programs,
doctoral dissertation, College Park, Nd., University of Maryland, 1981.
24. For other models of staff
development, see Wood, Thompson, and Russel, 64-87; also in Wood, McQuarrie,
and Thompson, 28-31. See also James C. King, “Improving Staff Development: Using a Model,” Ohio Association for
Supervision and Curriculum Development Newsletter 1 (Winter 1978) 18-21.
25. Peter A. Williamson and Julia A.
Elfman, “A Commonsense Approach to
Teacher Inservice Training,” Phi Delta Kappan 63, no. 6 (February 1982):
401:
26. Jay Lutz and Garrett Foster, “Greater Involvement Urged,” Florida
Scholls 37, no. 3 (February 1975): 20-21.
27. Inservice Training Needs
Assessment, Fort Myers, Fla., Southwest Florida Teacher Education Center, 1975.
28. Dade/Monroe Teacher Education
Center, Inservice Program Survey, Miami, Fla., Dade/Monroe Teacher Eduation
Center, June, 1982.
29. John I. Goodlad, The Dynamies of Educational Change: Toward
Responsive School, New York, McGraw-Hill, 1975, 175.
30. J. H. C. Butler Elementary School,
Scholl/Department Improvement Plans, 1981-82, Savannah, Ga., Savannah-Chatham
County Public School, 1981, Section VI.
31. Linda L. Jones and Andrew E.
Hayes, “How Valid Are Surveys of Teacher
Needs?” Educational Leadership 37, no. 5 (February 1980): 390.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar