Minggu, 22 Maret 2020

SINOPSIS MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM Model Pembelajaran Multiple Representasi ( Model SiMaYANG )


SINOPSIS
MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

Model Pembelajaran Multiple Representasi
 ( Model  SiMaYANG )

 Pembelajaran Empat Fase dengan Lima Kegiatan: Orientasi, Eksplorasi Imajinatif, internalisasi, dan Evaluasi.

Dosen Pengampu
Prof. Dr. H. ISMET BASUKI, M.Pd




Oleh
SUPRIYO
NIM: 6117001


PROGAM PASCA SARJANA
JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
2018

DAFTAR ISI



 

 

 


BAB  I

SINTAKS  MODEL PEMBELAJARAN MULTIPLE REPRESENTASI
 ( Model  SiMaYANG )

 

Fokus studi tentang pembelajaran bidang sains ( fisika, kimia, dan biologi ) sebaiknya focus diarahkan kepada pemilihan yang menekankan pada pemberian pengalaman belajar pada peserta didik agar mampu memiliki pemahaman makroskopik, (sub), mikroskopik dan simbolik, melalui kegiatan belajar berbasis inkuiri, sehingga dapat mengkaitakan  dan menerapkan pada konteks kehidupan nyata, pemilihan tersebut bertujuan  agar guru dan dosen mampu membelajarkan sains melalui interkoneksi diantara ketiga level representasi yaitu makroskopik, (sub ) mikroskopik dan simbolik. (Johnstone, 1993 ) dalam hal, pemahaman seseorang terhadap sains di tentukan oleh kemampuan mentransfer dan menghubungkan antara fenomena – fenomena makroskopik, (sub ) mikroskopik dan simbolik. makroskopik, (sub ) mikroskopik dan simbolik. Upaya pemecahan masalah dalam sains sebagai salah satu ketrampilan berfikir tingkat tinggi hanya dapat dilakukan melalui penggunaan kemampuan representasi secara ganda ( multiple ) atau kemampuan  peserta didik bergerak dari satu modus representasi ke modus representasi yang lain.

A.        Sintaks Model Pembelajaran  Multiple Representasi ( Model SiMaYANG )
Model pembelajaran Multiple Representasi merupakan sebuah model pembelajaran yang menginterkoneksikan tiga level fenomena sains ( makro, (sub ) mikro, dan simbolis ) dengan mempertimbangkan domain, pengajar (guru/dosen), peserta didik ( siswa / mahasiswa), dan interaksi dari  faktor-faktor kemampuan interpretasi peserta didik ( C, R, dan M). dengan  dengan mempertimbangkan faktor-faktor interaksi  R-C dan C-M, maka dalam model pembelajaran  diperlukan  C-R-M diperlukan tahapan kegiatan imajinasi representasi. Hasil dari kedua tahapan tersebut perlu di internalisasikan dalam pembelajaran melalui presentasi, tugas dan latihan sebagai perwujudan hasil eksplorasi-imajinasi. Tahap terakhir adalah tahap evaluasi sebagai tahap untuk mendapat umpan balik selama proses pembelajaran. Oleh karena itu, kebaruan dari model pembelajaran ini di tunukkan dengan adanya tahapan model  pembelajaran yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu orientasi, eksplorasi-imajinasi, internalisasi, dan evaluasi. Tahapan – tahapan tersebut disusun secara diagramatis berbentuk layang – layang dan disebut Si-Lima-Layang-layang yang disingkat SiMaYang.

Tahap (fase)
Aktivitas Dosen dan Mahasiswa
Fase I:
Orientasi
1.      Menyampaikan tujuan pembelajaran
2.      Memberikan motivasi dengan  berbagai fenomena sains yang terkait dengan pengalaman peserta didik.

Fase II:
Eksplorasi-Imajinasi
1.      Mengenalkan konsep materi dengan memberikan beberapa abstraksi yang berbeda mengenai fenomena sains secara verbal atau dengan demonstrasi dan juga menggunakan visualisasi: gambar, grafik, atau simulasi atau animasi, dan atau analogi dengan melibatkan peserta didik untuk menyimak dan bertanya jawab


2.      Memberikan bimbingan pada peserta didik untuk melakukan imajinasi representasi terhadap fenomena sains yang sedang di hadapi secara kolaboratif(berdiskusi)

3.      Mendorong dan memfasilitasi diskusi untuk mengembangkan pemikiran kritis kreatif dalam membuat interkoneksi di antara level-level fenomena sains dengan menuangkannya ke dalam lembar kegiatan peserta didik. Misalnya: diberikan gambar sub-mikro tentang reaksi, peserta didik dapat menyimpulkan peristiwa yang terjadi dan peserta didik dapat membuat gambar sub-mikro tentang fenomena tersebut bila diberikan informasi verbal tentang fenomena yang lain yang sempurna.
Fase III: Internalisasi
1.      Membimbing dan memfasilitasi peserta didik dalam mengartikulisasikan/mengkomunisasikan hasil pemikirannya melalui presentasi hasil kerja kelompok.
B
2.      Memberikan dorongan kepada peserta didik lain untuk memberikan komentar atau menanggapi hasil kerja dari kelompok peserta didik yang sedang presentasi.

3.      Memberikan latihan atau tugas untuk menciptakan aktifitas individu dalam mengartikulasikan imajinasinya (latihan idividu tertuang dalam lembar kegiatan (LK) yang berisi pertanyaan dan/atau perintah utuk membuat interkoneksi ketiga level fenomena sains dan/ atau berisi teka-teki silang belajar sains (TTBS).

Fase IV: Evaluasi
1.      Memberikan reviu terhadap hasil kerja peserta didik.

2.      Memberikan tugas-tugas untuk berlatih menginterkoneksikan ketiga level fenomena sains.

3.      Melakukan evaluasi diagnostic,formatif,sumatif.





Konsep Multipel Representasi timbul karena kebutuhan siswa untuk mengeksplorasi dan melakukan banyak tugas yang beragam yang melibatkan sejumlah besar informasi yang bersifat abstrak yang bisa menyajikan kembali konsep – konsep yang telah di pelajari melalui berbagai cara dan berbagai aksi dan ekspresi, seperti: penyampaian melalui lisan, gesture, visual ( dengan gambar, animasi, simulasi, grafik, pictogram, diagram, dll ), verbal ( tulisan, grafik, diagram, dan lain – lain ) dan simbolik ( Lambang, rumus, perhitungan matematik, dan lain – lain )

Model pembelajaran SiMayang yang dikembangkan dengan tujuan untuk membelajarkan:
1.      Konsep – konsep kimia yang bersifat abstrak dengan melibatkan ineraksi ketiga fenomena kimia (makro,submikro,dan simbolik) melalui berbagai representasi.
2.      Keterampilan berpikir melalui daya imajinasi dalam menumbuhkan model mental mahasiswa.
3.      Rasa peraya diri sehingga menumbuhkan keyakinan pada dirinya untuk berhasil dalam memahami fenomena – fenomena abstrak dalam kehidupan nyata.

Buku ini di susun ke dalam 5 (lima) bab pembahasan,yang pembahasannya dimulai dari rasionalitas dari pengembangan model pembelajaran berbasis multipel repesentasi yang dinamakan model SiMa Yang sampai dengan kajian empiris dari model pembelajaran yang telahdikembangkan dan diakhiri dengan penutup.Metode penulisan dari setiap Bab dilakukan melalui kajian empiris (penelitian), kajan sumber bacaan (buku teks), dan jurnal ilmiah (nasional dan internasional).
Ada bab 1 pembahasan didasarkan pada hasil laporan penelitian yang dilakukan penulisan sejak tahun 2009 hingga 2014, kajian beberapa jurnal nasional dan internasional, serta kajian buku dari buku teks.pembahasan pada bab 2 lebih banyak di tulis berdasarkan hasil kajian dari buku teks dan jurnal ilmiah. Pada bab 3 dan 4, penulis lebih banyak menguraikan isi dari model pembelajaran simayang yang didasarkan atas hasil penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2012 hingga 2014. Pada bab 5, penulis memaparkan bukti – bukti keberhasilan dari model pembelajaran si mayang yang berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan  baik penulis sendiri, mahasiswa dan guru.












Kontruktivisme berasal dari kata kontruksi yang berarti “membangun”. Ketika masuk ke dalam kontek filsafat pendidikan maka kontruksi itu diartikan dengan upaya dalam membangun susunan kehidupan yang berbudaya maju.
Gagasan tentang teori ini sebenarnya buhkan hal baru, karena segala hal yang dilalui di kehidupan merupakan himpunan dan hasil binaan dari pengalaman yang menyebabkan pengetahuan muncul dalam diri seseorang.
Teori kontruktivisme mendefinisikan belajar sebagai aktivitas yang benar-benar aktif, dimana peserta didik membangun sendiri pengetahuannya, mencari makna sendiri, mencari tahu tentang yang dipelajarinya dan menyimpulkan konsep dan ide baru dengan pengetahuan yang sudah ada dalam dirinya.

Model pemrosesan informasi membahas tentang peran oprasi-oprasi kognitif dalam pengolahan.Inti dari perkembangan dalam pemrosesan informasi adalah terbentuknya sistem pada diri seseorang yang semakin efisien untuk mengontrol aliran informasi.ada dua model yang dapat digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi,yaitu model penyimpanan (store/structure model) dan model tingkat pemrosesan (level of processing).model penyimpanan di kembangkan oleh Atkinson &shiffrin,sedangkan model tingkat pemrosesan dikembangkan oleh Craik dan Lockhart (Solso,2008;163-196), kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu system yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (Input ), Proses, dan keluaran ( Output).


Model umum teori dual coding
Teori dual coding yang dikemukakan Allan Paivio (Paivio, 2007) menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Dual oding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.

Aplikasi teori representasi visual dengan DCT = DUAL CODING THEORY ) telah memunculkan beberapa hasil penelitian pengembangan model mental peserta didik. Istilah model mental peserta didik. Istilah model mental banyak digunakan oleh para peneliti bidang psikologi kognetif, namun akhir – akhir ini istilah itu banyak juga di pakai oleh para peneliti bidang pendidikan, terutama dalam pendidikan sains ( fisika, sains dan biologi ) dan matematika, pakar psikologi kognetif johnson – laird ( solaz- portoles, 2007 ) menemukan.

















BAB III

MODEL PEMBELAJARAN SiMaYang

 

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya bahwa kebutuhan akan pembelajaran yang dapat di akses oleh semua siswadengan berbagai latar belakakng kemampuan, salah satunya adalah dengan melibatkan strategi pembelajaran berbasis multiple representasi. Model pembelajaran dengan strategi tersebut di harapkan mampu menjebatani kesulitan peserta didik dalam memahami fenomena-fenomena yang bersifat abstrak. Tentu saja pembelajaran demikian merupakan pembelajaran yang mampu menginterkoneksikan tiga level fenomena alam (makro, sub-mikro, dan simbolik).
Model pembelajaran SiMaYang merupakan pembelajaran berbasis multipel representasi yang dikembangkan dengan mengkombinasikan teori faktor interaksi (tujuh konsep dasar) yang mempengaruhi kemampuan peserta didik untuk merepresantisan fenomena sains (Schonborn dan Anderson, 2009) kedalam kerangaka model IF-SO (Waldrip, 2010). Tujuh konsep dasar tersebut yang telah diidentifikasi oleh Schonborn dan Anderson (2009) adalah kemampuan penalaran peserta didik (Reasoning; R), pengetahuan konseptual peserta didik (Conceptual; C); dan keterampilan memilih mode representasi peserta didik (representatiaon modes; M). Faktor M dapat dianggap berbeda dengan faktor C dan R, karena faktor M tidak bergantung pada campurtangan manusia selama proses interpretasi dan tetap konstan keuali jika ER di modifikasi, selanjutnya empat faktor lainnya adalah faktor R-C merupakan pengetahuan konseptual dari diri sendiri tetang ER, faktor R-M merupakan penalaran terhadap fitur dari ER itu sendiri, faktor C-M adalah faktor interaktif yang mempengaruhi interpretasi terhadap ER, dan faktor C-R-M adalah interaksi dari ketiga faktor awal (C-R-M) tang mewakili kemampuan seorang peserta didik untuk melibatkan semua faktor dari model agar dapat meninterpretasikan ER dengan baik.
Kerangka model IF-SO berfokus pada isu-isu kunci dalam perencanaan pembelajaran suatu topic tertentu (I dan F), dan peran guru/dosen dan peserta didik (siwa/mahasiswa) dalam pembelajaran malalui pemilihan representasi selam topic tersebut di belajarkan (S dan O). Model kerangka IF-SO merupakan kombinasi dari tiga komponen pedagogic (domain, guru/dosen, dan peserta didik) yang di gambarkan dalam bentuk triad yang saling berkaitan .Persepektif pembelajaran model triad, proses pembelajaran sains menuntut keterlibatan berbagai triad yang meliputi domain (D), konsepsi guru/dosen (TC), representasi guru/dosen (TR), konsepsi peserta didik (SC), dan representasi peserta didik (SR), yang semuanya saling mendukung satu sama lain. Model kerangka IF-SO yang bersifat teoritis tersebut telah di kembangkan dan di aplikasikan dalam pembelajaran fisika kuantum oleh Abdurrahman (2010). Dalam penelitiannya, Abdurrahman mendesain pembelajaran model IF-SO menjadi beberapa lesson plan untuk mengembangkan disposisi berpikir krirtis dan keterampilan generic sains. Kerangka IF-SO belum di susun secara detail dalam bentuk sintak berurutan.    



·       Fenomena alam ( makro, sub mikro, dan simbolik)
·       Tujuan Pembelajaran : untuk membangun Model mental dan meningkatkan penguasaan konsep
Alur pengembangan model pembelajaran SiMaYang


Teori – Teori yang melandasi pembelajaran sains.
Integrasi teori Schonborn dan kerangka pembelajaran IF - SO
·       Teori belajar konstruktivisme
·       Teori pemrosesan informasi
·       Teori dual coding
Teori Pendukung
·       Representas
·       Mode entali
Tahap Eksplorasi
Tahap Imajinasi
Tahap Internalisasi
Tahap Evaluasi
Tahap Orientasi
R-C,C-M, R-M dan C-R-M
R-M  dan  C –R-M Dengan O
R-M  dan  C –R-M Dengan S
R-C  dan  C –M Dengan F
R.C  dan  MDengan I
 













Model pembelajaran yang melibatkan  fenomena makro, sub mikro, dan simbolik melalui berbagai representasi
fase 1                         fase II                               fase III             fase IV


Karakteristik model pembelajaran berbaris multipel representasi yang dikembangkan dan di beri nama model SiMaYang di rumuskan berdasarkan hasil kajian teori dan analisis yang dilakukan pada tahap pendahuluan dan pengembangan . Model pembelajaran SiMaYang disusun dengan mengacu pada ciri suatu model pembelajaran menurut Arends, R.  yang menyebutkan setidak-tidak nya ada 4 ciri khusus dari model pembelajaran yang dapat di gunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang di gunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran , yaitu:
1.      Rasiona teoritik yang logis yang di susun oleh perancang nya.
2.      Landasan pemikiran tentang tujuan pembelajaran yang hendak di capai danbagaimana peserta didik belajar untuk mencapai tujuan tersebut.
3.      Aktifitas guru/dosen dan peserta didik (siswa/mahasiswa) yang di perlukan agar model tersebut terlaksana dengan efektif.
4.      Lingkungan belajar di yang di perlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

BAB IV

Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran dengan mungunakan Model Multiple Representasi  ( Model  SiMaYANG )

 

Berdasarkan sintaks pembelajaran model SiMaYang  yang telah lalu, maka untuk menarapkan model SiMaYang dalam pembelajaran dikelas, harus terlebih dahulu melakukan persiapan pembelajaran dengan menyusun  perangkat pembelajaran bai agar pembelajaran dengan model SiMaYang  dapat berjalan dengan lancer dan kondusif. Persiapan  Pembelajaran yang dimaksud meliputi: Penyusunan perangkat pembelajaran (Rencena Pembelajaran dan lembar dan lembar kegiatan peserta Didik atau LKPD), media pendukung, dan instrument evaluasi. Namun, sebelum melakukan penyusunan perangkat, media dan instrument evaluasi, terlebih dahulu perlu di perhatikan hal – hal yang berkaitan dengan bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan Model SiMaYang, yaitu mengenai perencanaan, petunjuk pelaksanaan pembelajaran dengan Model SiMaYang, pengelolaan kelas dan lingkungan belajar, serta pelaksanaan evaluasi.

4.1    Perencanaan
Perencanaan dalam melaksanakan pembelajaran dengan model SiMaYang meliputi antara lain:

4.1.1        Perencanaan Tujuan Pembelajaran
Sebelum menyusun perangkat pembelajaran  (RPP dan LKPD) hendaknya tujuan pembelajaran harus dirumuskan terlebih dahulu pada setiap kali pertemuan dengan mengau pada indicator yang telah ditetapkan.

4.1.2        Perencanaan aktivitas Peserta Didik yang sesuai
Peserta didik dilatih untuk melakukan imajinasi dengan mengunakan potensi Kognitifnya dalam membangun model mental.  yang perlu di rancang dalam pembelajaran antara lain : mendengarkan, mengamati, Tanya jawab, mengumpulkan data, informasi, membayangkan lalu mengambarkan atau membuat inter prestasi, diskusi, presentasi dan melakukan transformasi.

4.1.3        Perencanaan perangkat pembelajaran dan media pendukug
Sebagaimana telah di kemukakan di atas bahwa persiapan pembelajaran yang pernting untuk di lakukan adalah menyusun perangkat pembelajaran, yang meliputi: rencana pembelajaran (RP), Lembar kegiatan peserta Didik (LKPD), dan instrument evaluasi selain perangkat tersebut, dalam pembelajaran dengan mengunakan model SiMaYang di perlukan bahan aaaaaaaaajar berupa buku teks yang sesuai, yaitu buku teks yang di lengkapi dengan ilustrasi gambar sub-mikro tentang fenomena sains . perangkat pembelajaran tersebut bersifat saling mendukung dan melengkapi. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan operasionalisasi dari sintaks dalam model pembelajaran SiMaYang. LKPD merupakan tuntunan bagi peserta didik dalam melakukan imajinasi dan berlatih membuat transformasi terhadap fenomena reoresentasi sains yang satu ke fenomena representasi sains yang lain. Oleh sebap itu, LKPD memuat masalah-masalah yang berfungsi untuk melatih pesertaa didik membangun model mental dan memperluas serta memperkuat pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran yang sedang di pelajari. Sunyono(2014) menyatakan bahwa masalah-masalah pada LKPD tersebut berupa pertanyaan-pertanyaan berbentuk uraian yang menuntut peserta didik untuk melakaukan proses mental dengan cara:
a.         Mengubah Representasi visual ke dalam representasi verbal atau sebaliknya. Missal nya tentang persamaan-persamaan matematik , persamaan kimia, konsep model atom, konsep probabilitas, energy,fungsi gelombang,system peredaran darah, system pencernaan dan sebagai nya.
b.         Merepresentasi terjadinya reaksi, susunan electron dalam orbital dari suatu atom, bentuk-bentuk orbital, dan sebagai nya dengan menggambarkan representasi tersebut ke dalam representasi eksternal, baik makro,simbolik,maupun (sub) mikro.
Di samping guru/dosen harus menyiapkan perangkat pembelajaran sebagaimana yang di uraikan di atas, guru/dosan juga harus meyiapkan media pendukung  yang sesuai dengan topic yang akan di bahas.Dalam hal ini, guru/dosen dapat mengunakan model-model berupa alat peraga, model 2-D atau 3-D( statis atau dinamis) seprti ,model molekuler ( molimod), gambar / diagram sub-mikro, grafik, animasi, simulasi,dan lain-lain atau menggunakan model yang diakses dari internet (webpage/weblog). Model-model yang digunakan harus dapat membantu peserta didik dalam melakukan eksplorasi dan imajinasi, sehingga peserta didik mudah dalam membangun model mental nya dan memahami konsep-konsep yang sedang di pelajari.

Guru/dosen dalam melaksanakan pembelajaran dengan model SiMaYang harus benar-benar dapat mengembangkan keterampilan representasionalnya,sehingga dapat melakukan pembelajaran dengan menginterkoneksikan ketiga level fenomena sains.oleh sebab itu,sebelum model SiMaYang ini di terapkan dalam pembelajaran di kelas, guru/dosen perlu berlatih melakukan interkoneksi diantara ketiggy a level fenomena sains, melalui latihan imajinasi untuk melakukan interpretasi dan mentransformasi fenomena sains dari level yang satu ke level yang lain. Guru/dosen perlu berlatih membuat gambar-gambar sub-mikro yang menggambarkan fenomena sains level molekuler untuk menjelaskan proses sains yang sebenarnya terjadi. Di samping itu, guru/dosen juga berlatih melakukan interpretasi terhadap representasi eksternal (berupa gambar/diagram sub-mikro, grafik, animasi, simulasi, atau analogi) yang telah dibuat atau yang ada pada buku teks atau yang ada pada media yang digunakan. Latihan-latihan trasformasi, menggambar gambar sub-mikro, dan interpretasi terhadap representasi eksternal, sangat diperlukan agar pembelajaran dengan model SiMaYang dapat berjaalan dengan lancar dan meminimalisir miksonsepsi yang mungkin saja terjadi.
Di samping berlatih dalam membuat interkoneksi ketiga level fenomena sains, guru/dosen juga perlu melatih dirinya dalam menerpkan model pembeljaran SiMaYang di kelas yang maliputi: penerapan sintaks, penerapan system social, penerapan prinsip reaksi, dan pemberian bimbingan kepada peserta didik yang memerlukan (Sunyono,2014; Sunyono dan Yulianti, 2014).Contoh latihan interkoneksi diantara level fenomena sains (pada materi sains) dari level sub-mikroskopis ke simbolik dan makroskopis:
Contoh 1. Gambar di bawah, merupakan gambar dari fenomena melokuler dari tiga larutan elektrolit yang berbeda. Dalam hal ini adalah molekul air, dan    adalah atom hidrogen. Coba tentukan gambar manakah yang menunjukkan larutan asam, larutan basa, dan larutan garam? Berikan penjelasan Anda! (Petunjuk: asam, basa, dan garam, dalam larutannya akan terionisasi)

4.2.1        Penerapan Sintaks Model SiMaYang
Dalam menerapkan model pembelajaran SiMaYang, setiap tahap pada sintaks harus dioperasionalkan di dalam Rencana Pembelajaran(RP). Di dalam rencana pembelajaran memuat topic yang dibahas., Standar Kompetensi, Kometensi Dasar, Indikator, Tujuan Pembelajaran, Model dan Metode Pembelajaran yang digunakan, serta scenario pembelajaran (Joyce & Weil, 1992). Oleh sebab itu, skenario pembelajaran pada rencana pembelajaran model SiMaYang untuk topic yang bersifat abstrak dengan beberapa contoh konkret, misalnya topik Stoikiometri, pada pembelajaran sains harus mencangkup keempat fase (tahap) pembelajaran dengan urutan: orientasi, eksplorasi-imajinasi, internalisasi, dan evaluasi. Namun, untuk topic yang bersifat abstrak, misalnya pada materi sains topik Sruktur Atom atau Ikatan Kimia, maka urutan fase dalam RP adalah orientasi, imajinasi – eksplorasi, internalisasi, dan evaluasi.
a.      Tahap Orientasi
Pada tahap orientasi, aktivitas guru/dosen yang harus dilakukan adalah menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi dengan memberikan gambaran tentang fenomena sains yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga peserta didik dapat lebih termotivasi dalam mempelajari sains (Sunyono, 2012 dan 2014).Pemberian motivasi ini dapat dilakukan melalui reviu materi pembelajaran minggu sebelumnya dan/atau pemberian pertanyaan-pertanyaan untu mengetahui pengetahuan awal peserta didik yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas dan merupakan peristiwa-peristiwa yang dijumpai dalam kehidupan manusia. Misalnya ketika guru/dosen akan membelajarkan kimia Topik Stoikiometri, guru/dosen terlebih dahulu menyampaikan tujuan pembelajaran. Selanjutnya, guru/dosen tersebut memberikan pertanyaan yang diawali dengan informasi pendahuluan sebagai berikut:
Saat kita membeli apel atau beras, kita selalu mengatakan     kepada penjual berapa kilogram yang akan kita beli. Begitu juga, ketika kita akan membeli bensin, kita akan mengatakan sekian liter. Untuk menyatakan jarak, kita menggunakan ukuran meter. Bagaimana denagn ukuran jumlah zat atau banyaknya materi yang terlibat dalam satu reaksi kimia?”
Atau dapat pula dengan didahului pertanyaan, lalu diberikan informasi penting yang terkait dengan pertanyaan tersebut.
·         Tahukah kalian dengan kantung udara untuk keselamatan pengemudi mobil?
·         Bahkan kimia apa saja yang umumnya dikandung dalam kandung udara tersebut?
·         Apa yang terjadi ketika kantung udara itu mengembang? Hukum fisika apa yang berlaku?
Informasi: Desainer kantung udara menggunakan prinsip stoikiometri dan hukum gas untuk mengetahui beberapa banyak gas generator yang dibutuhkan untuk menghasilkan gas yang ukup dalam kantung udara.
Dengan pertanyaan seperti ini diharapkan mampu merangsang peserta didik untuk menelusuri informasi tentang kantung udara dan hubungannya dengan meteri yang sedang dibahas melalui buku teks, webpage dan/ atau webblog. Dengan demikian, pada tahap orientasi ini hendaknya sudah muncul interaksi antara guru/dosen peserta didik dan interaksi sesama peserta didik melalui Tanya jawab yang difasilitasi oleh guru/dosen.
b.      Tahap Eksplorasi – Imajinasi
Tahap eksplorasi – imajinasi adalah tahap pembelajaran yang dirancang oleh guru/dosen yang memungkinkan peserta didik membangun pengetahuan melalui peningkatan pemahaman terhadap suatu fenomena dengan cara menelusuri informasi malalui berbagai sumber, selanjutnya guru/dosen menciptakan aktivitas peserta didik dalm meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh dengan melakukan imajinasi representasi (Sunyono, 2012 dan 2014).
Pada tahap ini, pembelajaran lebih ditekankan pada konseptualisasi masalah-masalah sains yang sedang dihadapi berdasarkan kegiatan diskusi, eksperimen laboratorium/ demonstrasi, dan pelacakn informasi melalui buku teks atau internet (weblog atau webpage). Stategi yang digunakan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan menerapkan strategi belejar aktif (Sunyono, 2014). Oleh sebab itu,pada tahap eksplorasi konseptual, aktivitas guru/dosen yang harus dilakukan dalah mengenalkan konsep yang akan dibahas secara verbal dengan bantuan madia visual (gambar sub-mikro atau animasi) atau demonstrasi.
Pengenalan konsep ini lebih dititik beratkan pada awal konsep dengan menunjukkan tiga level fenomena sains (makro, sub-miko dan simbolik) atau dua level fenomena (sub-mikro dan simbiolik) melalui gambar bub-mikro atau diagram atau grafik atau animasi. Pengenalan konsep ini bukan berate guru/dosen memberikan penjelasan secara detail terhadap topic yang akan dibahas, namun merupakan pengantar pendahuluan yang dapat menciptakan rasa ingin tahu peserta didik dalam menelusuri informasi melalui berbagai sumber.Selama guru/dosen memberikan pengenalan konsep, peserta didik diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan/komentar/tanggapan terhadap apa yang disampikan guru/dosen. Setelah guru/dosen memberikan pengenalan konsep awal tentang fenomena sains yang akan dihadapi oleh peserta didik, guru/dosen memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperdalam dan memperluas informasi yang telah diberikan melalui buku teks atau website/webblog. Penelusuran informasi pada tahap ini dilakukan oleh peserta didik seara berkelompk. Pengelompokan peserta didik dilakukan pada tahap awal pembelajaran(tahap orientasi), atau ditetapkan pada pertemuan awal pembelajaran,
Pada tahap ini, selain peserta didik memperoleh informasih dari guru/dosen dan memperoleh pengetahuan dari penelusuran informasi, peserta didik juga di beri kesempatan untuk melakukqan pembayangan mental  (imajinasi) terhadap representasi yang sedang di hadapi, sehingga dapat mentransformasikan fenomena representasi tersebut dari level yang satu ke level yang lain. Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat di lihat dari bagaimana peserta didik melakukan interpretasi dan transformasi terhadap representasi fenomena sains yang sedang di hadapi. Kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat di lihat dari bagaimanq peserta didik dapat melakukan interpretasi terhadap representasi yang di hadapi dengan membuat suatu kesimpulan,komentat, atau melakukan perhitungan matemastis, sedangkan kemampuan berfikir kreatif, ketika peserta fidik dapat melakukan transformasi representasi dari level sub-mikro ke level makro dan simbolik atau sebaliknya. Sebagai contoh: di berikan gambar sub-mikro tentang fenomena sains (reaksi kimia atau bergeraknya elektron pada orbital tertentu) , peserta didikdapat menyimpilkan peristiwa kimia yang terjadi dan peserta didik dapat membuat gambar sub-mikro tentang fenomena sains bila di berikan informasi verbal tentang fenomena sains yang lain yang serupa. Pada tahap inilah,model mental peserta didikdpat di bangun melalui kegiatan yang imajinatif dan kreatif.

4.2.2        Penerapan Sistem Sosial
Penerapan system social pada model pembelajaran SiMaYang di fokuskan pada peran dan hubungan antara guru/dosen dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik lain serta norma-norma yang berlaku selama pelaksanaan pembelajaran (joyce dan Weil, 1992). Penerapan sisten sosial dalam model pembelajaran SiMaYang dapat di uraikan sebagai berikut:
a.         Interaksi antara peserta didik dengan peserta didik akan terjadi terutama pada saat kegiatan diskusi kelompok dan presentasi, tetapi dapat saja dikondisikan agar terjadi sejak awal pembelajaran. Hal ini terjadi karna guru/dosen lebih menitikberatkan  pada keterlibatan peserta didik secara maksimal. Dengan demikian, interaksi antar peserta didik yang lebih leluasa diberikan pada waktu tahap eksplorasi-imajinasi dan internalisasi.
b.         Pada tahap eksplorasi-imajinasi,interaksi yang terjadi lebuh dititikberatkan kepada interaksi anatara peserta didik dengan guru/dosen dalam menggali pengetahuan melalui buku teks dan/atau website /webblog.Pada tahap ini peserta didik diberi kesempatan dan peluang untuk bertanya kepada guru/dosen bila menemui kesulitan dalam memehami isi buku teks atau isi dari website /webblog.Intereaksi antar peserta didik pada tahap ini terjadi ketika guru/dosen memberikan kesempatan kepada peserta didik lain untuk memberikan jawaban atau komentar terhadap pertanyaan temannya.
4.2.3        Penerapan Prinsip Reaksi
Sebagaimana telah diungkapkan bahwa prinsip reaksi pada dasarnya merupakan prinsip yang berkaitan dengan bagaimana guru/dosen memperhatikan dan memperlakukan peserta didik,termasuk dalam memberikan respon terhadap pertanyaan,jawaban,tanggapan, atau apa yang dilakukan peserta didik (Joyce dan Weil,1992) . pada penerapan nya dikelas, guru/dosen harus selalu memberikan bantuan kepada peserta didik agar mampu mengorganisasikan pengetahuan dan keterampilan dalam membangun model mental dan memperoleh pengetahuan sains (Sunyono,2014;Sunyono dan Yulianti,2014).Pada setiap tahap kegiatan pembelajaran, guru/dosen harus selalu mengamati, membumbung,mengarahkan, dan memberikan penguatan sesegera mungkin ketika ada peserta didik yang memberikan tanggapan atau komentar atau pertanyaan. Perlu menjadi perhatian bahwa pemberian bantua, bimbingan,arahan,dan penguatan, guru/dosen harus adil terhadap peserta didik. Kontak mata yang di berikan guru/dosen pada peserta didik harus dapat memberikan motivasi kepada seluruh peserta didik.Perlakauan guru/dosen terhadap peserta didik yang mengajaukan pertanyaan / tanggapan dan mengungkapkan idenya harus dalam bentuk respon yang bersifat mengarahkan,membimbing, memotivasi, dan membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik untuk terus belajar dan menggali pengetahuan melalui berbagai sumber.

 Keberhasilan dalam penggunaan model pembelajaran SiMaYang ini ditentukan oleh kemampuan seorang guru/dosen dalam merencanakan kegiatan pembelajaran secara terstruktur, sistematis,dan tepat.Di samping itu, juga ditentukan oleh kesiapan lingkungan belajar dan perangkat mendukung pebelajaran termasuk media pembelajaran yang diperlukan untuk mendukung setiap aktivitas guru/dosen dan peserta didik dalam setiap pelaksanaan tahap-tahap dalam sintaks.
Dalam rangka menciptakan lingkungan belajarb yang kondusif dan pengelolaan kelas, pertama-tama guru/dosen harus terlebih dahulu memeriksa kesiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Ini dilakukan di awal pembelajaran. Guru/dosen mengawali aktivitas pembelajaran dengan melakukan orientasi untuk mengetahui pengetahuan awal peserta didik. Namun, sebelum melakukan orientasi, guru/dosen perlu memeriksa kesiapan kelasnya,misalnya kesiapan alat pembelajaran (peserta LCD) dan kebersihan papan tulis.Kesiapan peserta didik juga perlu diperiksa, apakah peserta didik secara mental dan fisik siap menerima pembelajaran, misalnya: apakah para peserta didik sudah duduk dikursinya masing-masing, menyiapkan buku atau laptop, alat/media/peralatan belajar lain yang diperlukan dalam pembelajaran dengan model SiMaYang. Jika peserta kelas dirasakan cukup, guru/dosen baru memulai mengawali kegiatan pembelajaran.

4.3.1        Mengatur Pengelompokan Peserta didik
Untuk mencapai  tujuan pembelajaran dengan model pembelajaraan SiMaYang diperlukan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik berinteraksi dengan temannya. Dalam hal ini, posisi tempat duduk dan pengelompokan peserta didik perlu di atur sedemikian rupa.
Pengelompokan peserta didik padamodel SiMaYang dilakuakan berdasarakan jumlah peserta didik, dimana setiap kelompok maksimal beranggotakan 4-6 orang. Pengelompokan dilakukan secara acak dan heterogen dengan pemerataan pserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi dan seluruh kelompok. Selanjutnya bersama-sama peserta didik melakukan pemilihan anggota kelompok secara acak,dengan tetap memperhatikan keberagaman kelompok.
Untuk memudahkan dalam panyebutan kelompok dan anggota kelompok ,maka setiap Kelompok diberi nama menggunakan inisial. Misalnya dalam pembelajaran kimia dapat di gunakan nama golongan dalam sistem periodik unsur , yaitu kelompok IA,IIA,IIIA,IVA,VA,dan VIA.
4.3.2        Mengatur Jalannya Diskusi Kelompok Atau Komunikasi Peserta Didik
Pada model pembelajaran SiMaYang, peserta didik bekerja secara kelompok pada tahap eksplorasi-imajinasidipandu oleh guru/dosen, dalam hal ini guru/dosen terlebih dahulu menyampaikaninformasi pendahuluan tentang materi yang akan di bahas dan memberikan permasalahan sains kepada peserta didik melalui tayangan powerpoint (pada tahap eksplorasi)yang dibantu dengan media animasi atau dengan melakukan demonstrasi. Kemudian peserta didik di minta melakukan penelusuran informasi yang lebih mendalam dan luas tentang fenomena sains yang di sampaikan oleh guru/dosen. Penelusuran informasi di lakukan melalui buku teks dalam melalui buku teks yang telah disediakan dalam bentuk soft copy atau melalui website/webblog. Pada kegiatan inipeserta didik diminta untuk saling membantu, saling mengajukan ide/gagasan atau komentar atau tanggapan terhadap fenomena yang di hadapi berdasarkan hasil penelusuran informasi.

4.3.3        Mengatur Kegiatan Individu
Kegiatan individu dilakukan pada tahap internalisasi dengan tujuan untuk melihat kemajuan  belajar peserta didik setelah sekitar ¾ waktu pembelajaran berlangsung . Pada kegiatan ini , peserta didik diminta untuk duduk sesuai tempat duduk nya masing-masing  dan tidak harus berada pada kelompoknya .Dalam kegiatn individu ini ,  peserta didik diminta untuk membuka LKPD  individu untuk diselesaikan secara mandiri.Peserta didik tidak diperkenankan  untuk berdiskusi atau memberikan jawaban  kepada temannya .Bila terdapat hal-hal yang sulit dipahami oleh peserta didik dalam melakukan interpretasi dan /atau transformasi antara level fenomena sains,peserta didik diperbolehkan bertanya kepada guru/dosen .Respon/jawab dari guru/dosen atas pertanyaan perserta didik diberikan secara klasikal,namun guru/dosen juga dapat melemparkan pertanyaan peserta didik tersebut kepada peserta didik lainnya. Dalam hal ini,guru/dosen harus mengatur tempo komunikasi antara peserta didik atau peserta didik-guru/dosen,sehingga tidak terjadi pemborosan waaktu.

4.3.4        Mengatur Partisipasi Peserta Didik
Sebagaimana diungkapkan diatas bahwa dalam model pembelajaran SiMaYang aktvitas pembelajaran sedemikian rupa,sehingga diharapkan tidak ada peserta didik yang pasif. Namun bisa saja kemungkunan ditemukannya peserta didik yang pasif,baik selama kgiatan individu,kelompok, maupun pada saat kegiatan presentasi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengantisipasi munculnya peserta didik yang pasif adalah memanfaatkan “zona aktif” . Zona aktif adalah suatu daerah didalam kelas dimana terjadi kegitan belajar yang aktif dari peserta didik dalam berpartisipasi dalam pembelajaraan. Bila terdapat suatu undividu peserta didik yang pasif,guru/dosen dapat meminta peserta didik tersebut untuk menepati (pindah) ke zona aktif tersebut, atau jika tidak memungkinkan meindah peserta didik guru/dosen yang harus mendatangi peserta didik tersebut untuk menciptakan “aktivitas pesereta didik” melalui arahan,bimbingan,fasilitasi, dan penguatan atau fanishmen yang dapat membangkitkan motifasi belajar peserta didik

  Penilaian dalam pembelajaran dengan model SiMaYang yang tidak semata-mata diperoleh pada tes akhir pembelajaran beberapa materi pokok bahasan selesai disampaikan dan dibahas oleh peserta didik. Penilaian juga dilakukan pada setiap pelaksanaan pembelajaran, yaitu penilaiaan proses pembelajaran.
       Untuk mengetahui kemampuan kemampuan peserta didikdalam mencapai tujuan pembelajaran, maka dilakukan tes prestasi pada setiap akhir pokok bahasan. Tes prestasi dilakukan untuk mengetahui sejauhmaana penguasaan konsep pesertabdidik setelah mengikuti pembelajaran pada pokok bahasan tertentu.Disamping tes prestasi, juga dilakukan tes model mental untuk mengetahui sejauhmana model mental peserta didik terhadapi konsepb sains yang telah di pelajari, model mental ini merupakan gambaran proses berpikir peserta didik menggunakan pola berfikir tingkat tinggi.Tes model mental merupakan teks dalam bentuk uraian (essay ) yang memuat konsep-konsep sains,yang dilengkapi dengan gambar-gambar sub-mikro,grafik,diagram,dan lain-lain(Park,2006;Sunyono,et al.,2015b). Tes model mental ini di lakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam melakukan transformasi  dan interpretasi terhadap representasi eksternal yang di hadapi tentang fenomena-fenomena sains (makro,sub-mikro,dan simbolik). Tes model mental diberikan sebanyak duakali untuk setiap pokok bahasan dengan jumlah soal disesuaikan dengan indicator dan alokasi waktu yang disediakan untuksetiap kali tes.Tes model mental diberikan pada setiap akhir pokok bahasan selesai dibahas. Penilaian hasil tes model mental menggunakan rubrik yang telah disediakan oleh guru/dosen.
        Untuk membantu  peserta didik dalam belajar digunakan LKPD . LKPD berisi  konsep-konsep sains  dengan interkoneksi dengan level-level  fenomena sains. Untuk setiap pokok bahasan  disediakan dua maam LKPD , yaitu LKPD untuk kelompok dan LKPD untuk aktivitas individu. Ciri khas LKPD pada model pembelajaran SiMaYang  adalah menonjolkan  interkoneksi antara level  makro ke sub-mikro  dan simbolik atau sebaliknya . LKPD dalam pembelajaran  dengan model SiMaYang ini di susun dengan tujuan  untuk melatih peszerta didik  menggunakan  imajinasinya dalam membangun model mental, sehingga dapat melakukan transformasi  dari mode representasi  sub-mikroskopis  ke mode representasi  makroskopis  dan simbolik, atau sebaliknya (Sunyono,2014).





BAB V

KAJIAN EMPIRIS MODEL SIMAYANG

 

Penilaian terhadap keterlaksanaan model pembelajaran diukur melalui keterlaksanaan RPP dan dilakukan oleh observer yang  mengamati jalannya pembelajaran yang disesuaikan dengan RPP yang telah disusun. Hasil observasi baik pada saat uji coba terbatas kemampuan pada tahap pengujian model berbagai provinsi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan sintaksis, sistem sosial, dasn prinsip reaksi dalam pembelajaran, dengan model SiMaYang memiliki tingkat keterlaksanaan yang tinggi  hasil ini menunjukan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakaan, model SiMaYang berlangsung sesuai dengan prinsip-prinsip model pembelajaran yang telah dikembangkan Penilaian terhadap kemenarikan model pembelajaran SiMaYang telah dilakukan melaui dari tahap uji coba terbatas sampai tahap pengujian model di beberapa provinsi. Kemenarikan pelaksanaan model pembelajaran SiMaYang dditinjau dari aktivitas peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dengan model SiMaYang, tangkapan/respon peserta didik terhadap pelaksanaan pembelajaran, dan minta belajar peserta didik setelah mengikuti pelajaran dengan menggunakan model SiMaYang, Hasil pengamatan terhadap aktivitas pesertav didik pelaksanaan pembelajaran dengan model SiMaYang menunjukkan bahwa terhadap perbedaan aktivitas yang cukup mencolok terutama terhadap aktivitas memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru/dosen teman yang terus menurun sejak pertemuan 1 sampai pertemuan terakhir dari materi pokok yang dibelajarkan. Ini menunjukkan bahwa peserta didik lebih suka aktiv mengeksplorasi sendiri melalui diskusi dengan teman atau membuka buku teks dan aktif melakukan imajinasi bersama kelompok. Demikian pula aktivitas yang dilakukan peserta didik yang telah relevan dengan kegiatan pembelajaran,seperti memainkan HP,ngobrol atau membuka atatan lain terus menurun dengan cukup tajam sejak pertemuan awal sampai pertemuan akhir dalam setiap pembelajaran materi pokok tertentu.

Pembelajaran sains dengan menggunakan model SiMaYang dilakukan dengan tujuan utuk meningkatkan kemampuan berpikir tinggkat tinggi peserta didik tentang stiokiometri melalui pembentukan model mental peserta didik. Kemunculan model mental peserta didik tergambar dari kemampuan peserta didik dalam menginterpretasikan  ketiga level fenomena representasi sains yang dapat dilihat dari jawaban-jawaban peserta didik dalam bentuk jawaban verbal, matematis/simbolis,dan gambaran visual ditingkat molekuler (submikroskopis). Hasil kajian ini menunjukan bahwa model mental peserta didik telah terbentuk dengan baik Dalam hal ini sebelum pelaksanaan pembelajaran dengan model SiMaYang pada kelas eksperimen, model mental peserta didik berada pada kategori”buruk sekali”, namun setelah pelaksanaan dengan model SiMaYang, model mental peserta didik menigkat menjadi berkategori sedang,baik,dan baik sekali Terbentuknya model mental peserta didik menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta didik dalam memahami representasi makroskopik,submikroskopis, dan simbolik, serta mampu melakukan interpretasi dan transformasi diantara ketiga level fenomena sains (sains) sebagaiman dilaporkan oleh chittleborough dan treagust (2017), Coll (2008), Devetak, et al.(2009), dan Davidowizth, et al . (2010).

Kajian empiris dalam pembelajaran sais dengan menggunakann model SiMaYang menghasilkan fakta bahwa model SiMaYang mampu meningatkan penguasan konsep peserta didik dengan N-Gain kategori “sedang”(Afdilah,2015;Fauziah,2015;Hananto,2015;Izzati,2015;Sunyono,2014 dan 2015b). Hasil kajian empiris dengan analisasis statistic menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada rerata N-Gain penguasan konsep antara kelas eksperimen dengan kelas kontrolan (Sunyono,2012,2014,2015b). Hasil kajian empiris juga menunjukkan bahwa model pembelajaran SiMaYang, mampu mensejajarkan peserta didik dengan kemampuan awal “rendah” dengan peserta didik berkemampuan awal “sedang” dan “tinggi” dalam meningkatkkan penguasaan konsep kimia, terutama untuk topik-topik baik yang bersifat abstrak maupun yang matematis . Dengan demikian , model pembelajaran  ini sangat cocok mempelajarkan topic-topik yang memiliki karakteristik yang sama, yaitu abstrak,matematis, dan analitis, seperti stoikiometri, struktur atom, ikatan kimia kesetimbangan kimia listrik  dan magnet, energi, sistem organ, genetika,atau topic-topik lainnya yang banyak mengadung fenomena (sub) mikroskopis.

Kelebian Dari Model Pembelajaran Sima Yang Antara Lain:
1.         Model Pembelajaran Sima Yang Mampu Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran Yang Di Tujukan Dengan Munculnya berbagai Aktivitas Pembelajaran. Pada Pembelajaran Sima Yang Dominasi Guru/Dosen Dalam Pembelajaran Sima Yang Dapat Di Minimalkan Dan Memberikan Peran Guru /Dosen Sebagai Fosilitator Dan Midiator
2.         Model Pembelajaran Simayang Merupakan Model Pemkbelajaran Yang Menyenangkan.Hasil Kajian Empiris Menunjukkan Lebih Dari 80% Peserta Didik  Berikan Respon Positif Dan Senang Dengan Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan Mode Simayang.
3.         Model Pembelajaran Simayang Mampu Membangun Model Mental Peserta Didik Dalam Upaya Memahami Materi Pembelajaran Kearah Model Mental Dengan Kategori ”Baik” Atau Dengan Karakteristik ”Konsensus” Dan Baik Sekali dengan Karakteristk target, ”Serta Peningkatan Model Mentel Tersebut Lebih Tinggi Dibanding Pembelajaran Konfesional.
4.         Model pembelajaran SiMaYang memiliki kolaboratif, koopereatif, dan imajinasi yang di tuang dalam fase eksplorasi – imajinasi dan internalisasi dapat di jadikan alternative model pembelajaran yang mampu mensejajarkan berserta peserta didik berekemampuan awal rendah dengan peserta didik berkemampuan awal sedang dan tinggi dalam membangun model mental dan meningkatkan penguasaan konsep.
5.         Model pembelajaran SiMaYang dapat dipandang sebagai model “terpadu” yang mengabunggkan media TIK dengan berbagai fenomena kimia dan menggabungkan media tersebut dengan berbagai aktifitas peserta didik, aktifitas guru/dosen, interaksi antar peserta didik, dan interaksi antar guru/dosen dengan peserta didik.
6.         Model pembelajaran SiMaYang mampu menciptakan lingkungan belajar yang kaya akan aktifitas pembelajaran, baik yang bersifat individual maupun yang bersifat kolaboratif, sekaligus mampu membelajarkan pada peserta didik arti pentingnya kerja sama dan menghargai hasi kerja orang lain.
7.         Model pembelajaran SiMaYang mampu memberikan dorongan atau motivasi kepada peserta didik untuk mengasah kemampuan imajinasinya dalam memahami fenomena yang bersifat abstrak. Kekuatan imajinasi peserta didik dalam pembelajaran dengan model SiMaYang mampu meningkatkan kemampuan dalam melakukan interpretasi dan transformasi ketiga level fenomena kimia.
Disamping memiliki kelebihan, model pembeelajaraan SiMaYang ternyata juga memiliki beberapa keterbatasan, antara lain:
a.       Model peembelajaran SiMaYang hanya mampu meningkatkan model mental peserta didik  dengan N-Gain berkategori “sedang”. Mayoritas model mental yang dapat dibangun adalah model mental dengan kategori ‘’baik’’ atau model mental dengan karakteristik  ‘’konsensus’’,  sedangkan model mental dengan kategori ‘’ sangat baik’’ atau model mental ‘’target’’ dapat ditumbuhkan (pada kisaran antara 10-25%) (sunyono,2014 dan 2015b). Hal ini disebapkan  untuk menumbuhkan model mental ‘’target’’ (kategori ‘’sangat baik’’) memerlukan waktu yang tidak singkat dan perelu latihan  terus-menerus.
b.      Pelaksanaan pembelajaran dengan mengunakan model SiMaYang memerlikan infrakstruktur yang memadai ( seperti listrik, fasilitas internet, dan computer). Seringnya listrik padam pada saat pembelajaran dapat menjadi hambatan keterlaksanaan dan keeeberhasilan pembelajaran dengan model SiMaYang .
c.       Pelaksanaan pemelajaran dengan model SiMaYang memerlukan kesiapan fasilitas jaringan internet dengan kapasitas dan kecepatan yang memadai sehingga dapat di akses oleh semua peserta didik pada saat bersamaan. Lambatnya akses internet menjadi hambatan yang sangat berarti dalam pembelajaran dengan menggunakan model SiMaYang .
d.      Model pembelajaran SiMaYang yang mengharuskan pengguna model memiliki kemampuan IT yang cukup baik. Kurangnya kemampuan IT dari pengguna  model dapat menjadi hambatan  keterlaksanaan model pembelajaran SiMaYang .
e.       Membutuhkan waktu yang cukup lama dalam menyiapkan perangkat pembelajaran dan jika tidak dipersiapkan dengan baik, pembelajaran dapat menyita waktu yang cukup lama.

Berdasarkan hasil pengembangan model pembelajaran SiMaYang yang paradigma pembelajaran dengan pendekatan saintifik, terlihat jelas bahwa model pembelajaran SiMaYang merupakan model pembelajaran masa depan. Meskipun sudah di lakukan penelitian selama 5 tahun, model pembelajaran SiMaYang saat ini masi terus di teliti keekfetifannya dalam pemelajaran. Ditinjau dari karakteristiknya model pembelajaran SiMaYang ini dalam pengembangan awalnya telah mengantisipas perubahan kurikulum  ke arah optimalisasi daya kreativitas  peserta didik, sebagaimana kurikulum 2013 debgan paradigma pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Telah dikemukakan di atas bahwa model pembelajaran berbasis multiple repsesentasi yang bernama SiMaYang merupakan model pembelajaran yang menekankan paada interkoneksi tiga level fenomena sains, yaitu level (sub) mikro yang bersifat abstrak, level simbolik, dan level makro yang bersifat nyata dan kasat mata.







DAFTAR PUSTAKA


1.        Lloyd W. Dull, Supervisio:  School Leadership Handbook, Columbus, Ohio, Charles E.Merril, 1981, 110.
2.        Ben M. Harris, Improving Staff Performane through In-Service Education, Boston, Allyn and Bacon, 1980, 24-25.
3.        E. Lawrence Dale, “What Is Staff Development?” Educational Leadership 40, no. 1 (October 1982): 31.
4.        Thomas J. Sergiovani and Robert J. Starratt, Supervision: Human Perspectives, 2d ed., New York, McGraw-Hill, 1979, 290-291.
5.        John T. Lovell, “Instructional Sepervision: Emerging Perspective, “ in  A. W. Sturges, chairman, The Role and Responsibilities of Instructional Supervisors, Report of the ASCD Working Group on the Roles and Responsibilities of Supervisors, Alexandria, Va., Association for Supervision and Curriculum Development, October 1, 1978, 43.
6.        Harris, Improving Staff Performance through In-Service Education, 30. See also Wagstoff and McCullough, “Inservie Educators: Education’s Disaster Area,” in Administrators’ Handbook, Chicago, Midwest Administration Center, University of Chicago. May 1973.
7.        Fred H. Wood and Steven R. Thompson, “Guidelines for Better Staff Development,” Educational Leadership 37, no. 5 (February 1980):374.
8.        Harris, Improving Staff Performance through In-Service Education, 33. See Gordon Lawrence, Dennis Baker, Patricia Elzie, and Barbara Hansen, Patterns of Effective In-Service Education, Gainesville. Fla., College of Education, University of Florida, 1974.
9.        Harris, Improving Staff Performance through In-Service Education, 36. See Don Proctor MeLendon, “A Delphi Study of Agreement and Consensus among Selected Educator Groups in Texas Regarding Principles Underlying Effective Inservice Education,”doctoral dissertation , Austin, Tex., University of Texas, 1977.
10.    Harris, Improving Staff Performance through In-Service Education, 36. See Francis J. Reardon. “Participant Survey of Pennsylvania In-service,” NCSIE Inservice, Syracuse, N.Y, College of Education, Syracuse University, November 1977, 9-10.
11.    Harris, Improving Staff Performance through In-Service Education, 36-37. See Jack L. Brimm and Daniel J. Tollett, “How Do Teachers Fell about In-service Education?” Educational Leadership 31, no. 6 ( March 1974): 521-524.
12.    David W. Champagne, “Does Staff Development Do Any Good?” Educational Leadership 37, no. 5 (February 1980): 401-402. See “An Excrcise in Freedom: A Place Where Test  Scores Appear to Be Rising,” in The Test Score Decline, L. Lipsitz, ed., Englewood Cliffs, N. J., Educational Technology Publications, 1977.
13.    Champagne, 402-403. See ERIC report by William P. Ward, ERIC ED 119387 + EA 008045.
14.    Champagne, 403. See David N. Aspy and Flora N. Roebuck, “From Humane Ideas to Human Technology and Back Again Many Times,” Education 95, no. 2 (Winter 1974): 163-171.
15.    Champagne, 403.
16.    Lovell, 35.
17.    John Dewey, The Sources of a Science of Education, Ney York, Liveright,1929, 17.
18.    Daniel Tanner and Laurel N. Tanner, Curriculum Development: Theory into Practice, 2nd ed., New York, Macmillan, 1980,103.
19.    Roy A . Edelfelt, ‘’Critical Issues In Developing Teacher Centers,’’ Phi Delta Kappan 63, no.
(February 1982): 403.
20.    Harris, Improving  Staff Performance throung In-Service Education, 37 .
21.    Toni Sharma, “Inservicing the Teachers, “ Phi Delta Kappan 63, no . 6 (February 1982): 403.
22.    Fred H. Wood , Steven R. Thompson, and Sister Frances Russell, “Designing Effective Staff Development Programs, “ in Staff Development/Organization Develoment, 1981 Yeatbook, Alexaandria, Va., Assoociation for Supervision and Curriculum Development, 1981 , 61-63. See also slinghtly revised vcrsion in Fred II. Wood, Frank O. McQuarric , Jr., and Steven R. Thompson  Educational Leadership 40, no. I (October 1982): 28 -29.
23.    Leonard C. Burrello and Tim Orbaugh, “Reducing the Discrepancy between the Known and the Unknown in Inservice Education, “ Phi Delta Kappan 63, no. 6 (February 1982): 385-386. See Patricia P. Keils et al., Quality Practice Task Force Final  Report, Bloom-ington, Ind., National Inservice Network, 1980, and Patricia J. Jamison, The Development and Validation of a Conceptual Model and Quality Practices Designed to Guide the Planning, Implementation, and Evaluation of Inservice Education Programs, doctoral dissertation, College Park, Nd., University of Maryland, 1981.
24.    For other models of staff development, see Wood, Thompson, and Russel, 64-87; also in Wood, McQuarrie, and Thompson, 28-31. See also James C. King, “Improving Staff Development: Using a Model,” Ohio Association for Supervision and Curriculum Development Newsletter 1 (Winter 1978) 18-21.
25.    Peter A. Williamson and Julia A. Elfman, “A Commonsense Approach to Teacher Inservice Training,” Phi Delta Kappan 63, no. 6 (February 1982): 401:
26.    Jay Lutz and Garrett Foster, “Greater Involvement Urged,” Florida Scholls 37, no. 3 (February 1975): 20-21.
27.    Inservice Training Needs Assessment, Fort Myers, Fla., Southwest Florida Teacher Education Center, 1975.
28.    Dade/Monroe Teacher Education Center, Inservice Program Survey, Miami, Fla., Dade/Monroe Teacher Eduation Center, June, 1982.
29.    John I. Goodlad, The Dynamies of Educational Change: Toward Responsive School, New York, McGraw-Hill, 1975, 175.
30.    J. H. C. Butler Elementary School, Scholl/Department Improvement Plans, 1981-82, Savannah, Ga., Savannah-Chatham County Public School, 1981, Section VI.
31.    Linda L. Jones and Andrew E. Hayes, “How Valid Are Surveys of Teacher Needs?” Educational Leadership 37, no. 5 (February 1980): 390.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar