SINOPSIS
STRATEGI PEMBELAJARAN ABAD 21
Oleh : SUPRIYO, SPd.I, M.Pd

MGMP
SKI ZONA 1
BADAN
KORDINASI MADRASAH TSANAWIYAH SWASTA
SE-
JOMBANG
2018
Abstrak
Perkembangan dunia abad 21 ditandai
dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam segala segi
kehidupan, termasuk dalam proses pembelajaran. Dunia kerja menuntut perubahan
kompetensi. Kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkolaborasi
menjadi kompetensi penting dalam memasuki kehidupan abad 21. Sekolah dituntut
mampu menyiapkan siswa memasuki abad 21.
Subjek abad 21 terdiri atas bahasa
inggris (bahasa resmi masing-masing negara), bahasa pergaulan dunia, seni,
matematika, ekonomi, pengetahuan alam (science), geografi, sejarah,
pemerintahan, dan kewarganegaraan. Sedangkan tema abad 21 mencakup kesadaran
global; literasi keuangan, ekonomi, bisnis dan wirausaha; kesadaran sebagai
warga negara; literasi kesehatan; dan literasi lingkungan.
Taksonomi Bloom sebagai acuan dalam
tujuan pembelajaran menyangkut dimensi pengetahuan dan proses kognitif. Dimensi
pengetahuan mencakup faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Proses
kognitif terdiri atas 1) mengingat (remember); 2) memahami (understand); 3)
menerapkan (apply); 4) menganalisis (analyze); 5) evaluasi (evaluate); dan 6)
menciptakan (create). Dimensi pengetahuan dan proses kognitif menjadi landasan
dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, sehingga
tersusun strategi pembelajaran abad 21.
Kata Kunci: kecakapan abad 21,
taksonomi bloom, subjek dan tema abad 21, strategi pembelajaran abad 21.
Pendahuluan
Perkembangan dunia abad
21 ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam segala
segi kehidupan. Teknologi menghubungkan dunia yang melampaui sekat-sekat geografis
sehingga dunia menjadi tanpa batas. Teknologi transportasi udara memberikan
kemudahan menempuh perjalanan panjang. Media on-line beritasatu.com merilis
waktu tempuh Newark – Singapura sejauh 9.535 mil dengan penerbangan non-stop
selama 18 jam. Melalui media televisi, kejadian di suatu tempat dapat secara
langsung diketahui dan dilihat di tempat lain yang berjarak sangat jauh pada
waktu bersamaan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melalui
internet memberi kemudahan pengiriman uang pada waktu yang sangat singkat,
bahkan real time. Perkembangan teknologi menjadikan terjadinya perubahan
kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja.
Kang, Kim, Kim & You
( 2012) mencatat bahwa perubahan standar kinerja akademik terjadi seiring
dengan perkembangan teknologi informasi komunikasi (TIK) dan pertumbuhan
ekonomi global. Perubahan standar menuntut penyesuaian dunia pendidikan dalam
menyiapkan peserta didik. Tekonologi informasi dan komunikasi memudahkan
komunikasi antar anggota masyarakat dan dunia kerja yang tidak terbatas oleh
ruang dan waktu. Pertumbuhan ekonomi global menuntut persaingan yang semakin
ketat dalam setiap aspek kehidupan, pasar tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat
geografis, namun dusah menjadi pasar global. Siswa abad 21 perlu dibekali dengan
kemampuan TIK dan mencermati perkembangan ekonomi global. Proses pembelajaran
harus mengakomodir hal tersebut.
Rotherdam &
Willingham (2009) mencatat bahwa kesuksesan seorang siswa tergantung pada
kecakapan abad 21, sehingga siswa harus belajar untuk memilikinya. Partnership
for 21st Century Skills mengidentifikasi kecakapan abad 21 meliputi : berpikir
kritis, pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi. Berpikir kritis berarti
siswa mampu mensikapi ilmu dan pengetahuan dengan kritis, mampu memanfaatkan
untuk kemanusiaan. Trampil memecahkan masalah berarti mampu mengatasi
permasalahan yang dihadapinya dalam proses kegiatan belajar sebagai wahana
berlatih menghadapi permasalahan yang lebih besar dalam kehidupannya.
Ketrampilan komunikasi merujuk pada kemampuan mengidentifikasi, mengakses,
memanfaatkan dan memgoptimalkan perangkat dan teknik komunikasi untuk menerima
dan menyampaikan informasi kepada pihak lain. Terampil kolaborasi berarti mampu
menjalin kerjasama dengan pihak lain untuk meningkatkan sinergi. Sedang menurut
National Education Association untuk mencapai sukses dan mampu bersaing di
masyarakat global, siswa harus ahli dan memiliki kecakapan sebagai komunikator,
kreator, pemikir kritis, dan kolaborator.
Mensikapi fenomena
perubahan kebutuhan tenaga kerja dan kemajuan, sekolah perlu dipersiapkan dan
menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan abad 21. Pemahaman terhadap
kecakapan abad 21 menjadi penting disampaikan kepada siswa. Pencapaian
kecakapan abad 21 dilakukan dengan memahami karakteristik, teknik pencapaian
dan strategi pembelajaran yang dilakukan.
Kecakapan Abad 21
Persoalan kecakapan abad
21 menjadi perhatian pemerhati dan praktisi pendidikan. The North Central
Regional Education Laboratory (NCREL) dan The Metiri Grup (2003) mengidentifikasi
kerangka kerja untuk keterampilan abad ke-21, yang dibagi menjadi empat
kategori: kemahiran era digital, berpikir inventif, komunikasi yang efektif,
dan produktivitas yang tinggi.
ATCS (assesment and
teaching for 21st century skills) menyimpulkan empat hal pokok berkaitan dengan
kecakapan abad 21 yaitu cara berpikir, cara bekerja, alat kerja dan kecakapan
hidup. Cara berpikir mencakup kreativitas, berpikir kritis, pemecahan masalah,
pengambilan keputusan dan belajar. Cara kerja mencakup komunikasi dan kolaborasi.
Alat untuk bekerja mencakup teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dan
literasi informasi
Kecakapan hidup mencakup
kewarganegaraan, kehidupan dan karir, dan tanggung jawab pribadi dan sosial.
Educational Testing Service (ETS)
(2007), mendefinisikan keterampilan abad ke-21 sebagai pembelajaran kemampuan
untuk a) mengumpulkan dan / atau mengambil informasi, b) mengatur dan mengelola
informasi, c) mengevaluasi kualitas, relevansi, dan kegunaan informasi, dan d)
menghasilkan informasi yang akurat melalui penggunaan sumber daya yang ada.
Partnership for 21st Century Skills mengidentifikasi enam elemen kunci untuk
abad ke-21 yaitu mendorong pembelajaran: 1) menekankan pelajaran inti, 2)
menekankan keterampilan belajar, 3) menggunakan alat abad ke-21 untuk
mengembangkan keterampilan belajar, 4) mengajar dan belajar dalam konteks abad
ke-21, 5) mengajar dan mempelajari isi abad ke-21, dan 6 ) menggunakan
penilaian abad ke-21 yang mengukur keterampilan abad ke-21
Kang, Kim, Kim & You
(2012) memberikan kerangka kecakapan abad 21 dalam domain kognitif, afektif,
dan budaya sosial. Domain kognitif terbagi dalam sub domain : kemampuan
mengelolan informasi, yaitu kemampuan menggunakan alat, sumberdaya dan
ketrampilan inkuiri melalui proses penemuan; kemampuan mengkonstruksi
pengetahuan dengan memproses informasi, memberikan alasan, dan berpikir kritis;
kemampuan menggunakan pengetahuan melalui proses analistis, menilai,
mengevaluasi, dan memecahkan masalah; dan kemampuan memecahkan masalah dengan
menggunakan kemampuan metakognisidan berpikir kreatif.
Domain afektif mencakup
sub domain : identitas diri yakni mampu memahami konsep diri, percaya diri, dan
gambaran pribadi; mampu menetapkan nilai-nilai yang menjadi nilai-nilai pribadi
dan pandangan terhadap setiap permasalahan. Pengarahan diri ditunjukan dengan
menguasai diri dan mampu mengarahkan untuk mencapai tujuan dalam bingkai
kepentingan bersama. Akuntabilitas diri ditunjukan dengan inisiatif, prakarsa,
tanggungjawab, dan sikap menerima dan menyelesaikan tanggungjawabnya.
Domain budaya sosial
ditunjukan dengan terlibat aktif dalam keanggotaan organisasi sosial, diterima
dalam lingkungan sosial, dan mampu bersosialisasi dalam lingkungan.
Subjek dan Tema Abad 21
Pemahaman dan penguasaan
subjek dan tema abad 21 menentukan kesuksesan seorang siswa di masa mendatang.
Partnership for 21st Century Skills (2009) memberikan rumusan subjek mata
pelajaran abad 21 meliputi : bahasa inggris (bahasa resmi masing-masing
negara), bahasa pergaulan dunia, seni, matematika, ekonomi, pengetahuan alam
(science), geografi, sejarah, pemerintahan, dan kewarganegaraan.
Penguasaan bahasa
nasional masing-masing dan bahasa pergaulan internasional mempengaruhi posisi
yang dapat dicapai oleh seseorang. Melalui penguasaan bahasa siswa mampu mengkomunikasikan
kompetensinya baik dengan bahasa tulis maupun lisan. Penguasaan seni dapat
mewarnai pengelolaan diri dalam menghadapi pergaulan di dunia kerja dan
masyarakat, sehingga lebih dapat menempatkan diri dalam lingkungan. Matematika
membangun logika dan cara berpikir sistematis, sehingga melalui penguasaan
matematika dapat meningkatkan logika berpikir yang diperlukan dalam
berinteraksi.
Penguasaan kompetensi
mata pelajaran tersebut belum memberikan dampak luas pada siswa kalau tidak
dibarengi dengan penguasaan tema-tema abad 21. Menurut Partnership for 21st
Century Skills (2009) tema yang mengemuka pada abad 21 adalah : kesadaran
global; literasi keuangan, ekonomi, bisnis dan wirausaha; kesadaran sebagai
warga negara; literasi kesehatan; dan literasi lingkungan.
Kesadaran global mencakup
kecakapan memahami dan menangani isu-isu global. Isu-isu global dalam setiap
aspek kehidupan baik politik, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, dan
pengetahuan. Belajar dari dan bekerja sama dengan individu yang mewakili
beragam budaya, agama dan gaya hidup merupakan syarat dalam memasuki pergaulan
dunia. Dunia yang semakin terbuka menuntut kemampuan menerima dan memahami akar
budaya, agama, dan gaya hidup orang lain dalam semangat saling menghormati dan
dialog terbuka dalam konteks pribadi, pekerjaan dan masyarakat. Memahami
negara, budaya, dan bahasa orang yang berinteraksi akan meningkatkan pemahaman
diri dan orang lain, meningkatkan harkat dan martabat masing-masing.
Kecakapan keuangan, ekonomi, bisnis
dan wirausaha mencakup : kecakapan menentukan pilihan ekonomi pribadi. Pilihan
seseorang terhadap sumber ekonomi pribadinya menentukan keberagaman
perekonomian dalam suatu negara. Orang tidak lagi terombang-ambing terhadap
pandangan orang lain terhadap sumber ekonominya, namun memaknai sumber ekonomi
sebagai jalan dalam berkontribusi bagi perekonian secara makro. Persoalan ini
akan meningkatkan pemahaman atas peran ekonomi dalam masyarakat. Keterampilan
kewirausahaan untuk meningkatkan produktivitas kerja dan pilihan karir dapat
meningkatkan kontribusi terhadap perkembangan “organisasi” yang dimasukinya.
Kewirausahaan mencakup kemampuan dalam berekspresi, berimprovisasi, dan
meningkatkan kinerja.
Kesadaran sebagai warga
negara mencakup kecakapan berpartisipasi efektif dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Kehidupan berbangsa dan bernegara terkait dengan peran dan fungsinya
dalam tugas dan tanggungjawab masing-masing. Memperjuangkan hak dan memenuhi
kewajiban sebagai warga negara dan masyarakat, menjadi titik tolak dalam hidup
bermasyarakat. Mengembangkan supremasi sipil, menempatkan hak-hak sipil dalam
bingkai demokratis yang mampu mengakomodir setiap kepentingan individu dalam
bingkai pemenuhan kepentingan bersama.
Kesadaran kesehatan
mencakup kemampuan dalam memelihara kesehatan pribadi, keluarga, masyarakat,
bangsa dan masyarakat global. Pemeliharaan kesehatan dimulai dari kemampuan
mencari informasi dan menafsirkan persoalan-persoalan kesehatan, termasuk
sebab, akibat, dan proses pencegahan dan pengobatan. Kesehatan dalam konteks
ini adalah kesehatan menyeluruh fisik dan mental.
Literasi lingkungan yaitu
mencakup kesadaran terhadap pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan secara
bertanggungjawab dan bermakna bagi kehidupan. Peka terhadap dampak pengelolaan
lingkungan yang tidak bertanggungjawab terhadap kehidupan secara global.
Perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan. Perubahan perilaku alam yang
menyebabkan terjadinya anomali iklim, dan dampak-dampak terhadap lingkungan
sebagai akibat ekploitasi alam.
Strategi Pembelajaran Abad 21
Paradigma pembelajaran
abad 21 menekankan kepada kemampuan siswa untuk berpikir kritis, mampu
menghubungkan ilmu dengan dunia nyata, menguasai teknologi informasi
komunikasi, dan berkolaborasi. Pencapaian ketrampilan tersebut dapat dicapai
dengan penerapan metode pembelajaran yang sesuai dari sisi penguasaan materi
dan ketrampilan.
Kemampuan berpikir kritis
siswa dibangun melalui pembelajaran yang menerapkan taksonomi pembelajaran
sebagaimana disampaikan oleh Benyamin Bloom tahun 1956 yang telah direvisi pada
tahun 2001. Bloom membagi tujuan pendidikan menjadi tiga ranah yaitu ranah
kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan pendidikan mengalami penyempurnaan
pada tahun 2001 (Anderson dan Krathwohl, 2001). Taksonomi pembelajaran dikelompokan
dalam dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif.
Dimensi proses
pengetahuan terdiri empat bagian yaitu faktual, konseptual, prosedural, dan
metakognitif. Krathwohl (2002), Anderson & Krathwohl (2001) menyebutkan
bahwa pengetahuan faktual menekankan pada pengetahuan faktual, yaitu
pengetahuan yang berupa potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah atau
unsur dasar yang ada dalam suatu disiplin ilmu tertentu, yang mencakup
pengetahuan tentang terminologi dan pengetahuan tentang bagian detail.
Pengetahuan faktual menyajikan fakta-fakta yang muncul dalam pengetahuan.
Pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan yang menunjukkan saling keterkaitan
antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan semuanya berfungsi
sama-sama, yang mencakup skema, model pemikiran dan teori. Pengetahuan
prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu, baik yang
bersifat rutin maupun yang baru, dan Pengetahuan metakognitif, yaitu mencakup
pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri sendiri.
Dimensi poses pengetahuan
terbagi dalam tiga yaitu kognitif, afektif dan psikomotor (Anderson &
Krathwohl, 2001:67-68) ranah kognitif terbagi dalam enam tingkat yaitu : 1)
mengingat (remember) : mengambil, mengakui, dan mengingat pengetahuan yang
relevan dari memori jangka panjang; 2) memahami (understand): membangun makna
dari lisan, pesan tertulis, dan grafis melalui menafsirkan, mencontohkan,
mengklasifikasi, meringkas, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan; 3)
menerapkan (apply): melaksanakan atau menggunakan prosedur melalui pelaksana,
atau menerapkan; 4) menganalisis (analyze): breaking materi menjadi
bagian-bagian penyusunnya, menentukan bagaimana bagian-bagian berhubungan satu
sama lain dan yang secara keseluruhan struktur atau tujuan melalui membedakan,
mengorganisasikan, dan menghubungkan; 5) evaluasi (evaluate): membuat penilaian
berdasarkan kriteria dan standar melalui memeriksa dan mengkritisi; dan 6)
menciptakan (create): menempatkan elemen bersama-sama untuk membentuk suatu
kesatuan yang utuh atau fungsional, reorganisasi elemen ke pola baru atau
struktur melalui menghasilkan, perencanaan, atau menghasilkan.
Proses pembelajaran yang
mampu mengakomodir kemampuan berpikir kritis siswa tidak dapat dilakukan dengan
proses pembelajaran satu arah. Pembelajaran satu arah, atau berpusat pada guru,
akan membelenggu kekritisan siswa dalam mensikapi suatu materi ajar. Siswa
menerima materi dari satu sumber, dengan kecenderungan menerima dan tidak dapat
mengkritisi. Kemampuan berpikir kritis dibangun dengan mendalami materi dari
sisi yang berbeda dan menyeluruh.
Kemampuan menghubungkan
ilmu dengan dunia nyata dilakukan dengan mengajak siswa melihat kehidupan dalam
dunia nyata. Memaknai setiap materi ajar terhadap penerapan dalam kehidupan
penting untuk mendorong motivasi belajar siswa. Secara khusus pada dunia
pendidikan dasar yang relatif masih berpikir konkrit, kemampuan guru
menghubungkan setiap materi ajar dengan kehidupan nyata akan meningkatkan
penguasaan materi oleh siswa. Menghubungkan materi dengan praktik sehari-hari
dan kegunaannya dapat meningkatkan pengembangan potensi siswa.
Penguasaan teknologi
informasi komunikasi menjadi hal yang harus dilakukan oleh semua guru pada
semua mata pelajaran. Penguasaan TIK yang terjadi bukan dalam tataran
pengetahuan, namun praktik pemanfaatnyanya. Metode pembelajaran yang dapat
mengakomodir hal ini terkait dengan pemanfaatan sumber belajar yang variatif.
Mulai dari sumber belajar konvensional sampai pemanfaatan sumber belajar digital.
Siswa memanfaatkan sumber-sumber digital, baik yang offline maupun online.
Membuat produk berbasis TIK, baik audio maupun audiovisual.
Kecakapan berkolaborasi
menunjukkan sikap penerimaan terhadap orang lain, berbagi dengan orang lain,
dan bersama-sama dengan orang lain mencapai tujuan bersama. Paradigma
pembelajaran kolaboratif memfasilitasi siswa berada dalam peran masing-masing,
melaksanakannya, dan bertanggungjawab. Sikap individualistik, mau menang
sendiri, dan bekerja sendiri akan mengurangi kemampuan siswa dalam menyiapkan
diri menyongsong masa depannya. Setiap kompetensi yang ada pada masing-masing
dikolaborasikan, sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan pencapaian hasil.
Beers menegaskan bahwa
strategi pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa dalam mencapai kecakapan
abad 21 harus memenuhi kriteria sebagai berikut : kesempatan dan aktivitas
belajar yang variatif; menggunakan pemanfaatan teknologi untuk mencapai tujuan
pembelajaran; pembelajaran berbasis projek atau masalah; keterhubungan antar
kurikulum (cross-curricular connections); fokus pada penyelidikan/inkuiri dan
inventigasi yang dilakukan oleh siswa; lingkungan pembelajaran kolaboratif;
visualisasi tingkat tinggi dan menggunakan media visual untuk meningkatkan
pemahaman; menggunakan penilaian formatif termasuk penilaian diri sendiri.
Kesempatan dan aktivitas
belajar yang variatif tidak monoton. Metode pembelajaran disesuaikan dengan
kompetensi yang hendak dicapai. Penguasaan satu kompetensi ditempuh dengan
berbagai macam metode yang dapat mengakomodir gaya belajar siswa auditori,
visual, dan kenestetik secara seimbang. Dengan demikian masing-masing siswa
mendapatkan kesempatan belajar yang sama.
Pemanfaatan teknologi,
khususnya tekonologi informasi komunikasi, memfasilitasi siswa mengikuti
perkembangan teknologi, dan mendapatkan berbagai macam sumber dan media
pembelajaran. Sumber belajar yang semakin variatif memungkinkan siswa
mengekplorasi materi ajar dengan berbagai macam pendekatan sesuai dengan gaya
dan minat belajar siswa.
Pembelajaran berbasis projek atau
masalah, menghubungkan siswa dengan masalah yang dihadapai dan yang dijumpai
dalam kehidupam sehari-hari. Bertitik tolak dari masalah yang diinventarisis,
dan diakhiri dengan strategi pemecahan masalah tersebut, siswa secara
berkesinambungan mempelajari materi ajar dan kompetensi dengan terstruktur.
Pada pembelajaran berbasis projek, pemecahan masalah dituangkan dalam produk
nyata yang dihasilkan sebagai sebuah karya penciptaan siswa. Pada pembelajaran
berbasis masalah/projek pembelajaran juga fokus pada penyelidikan/inkuiri dan
inventigasi yang dilakukan oleh siswa.
Keterhubungan antar
kurikulum (cross-curricular connections), atau kurikulum terintegrasi
memungkinkan siswa menghubungkan antar materi dan kompetensi pembelajaran,
dengan demikian pembelajaran dapat lebih bermakna, dan teridentifikasi manfaat
mempelajari sesuatu. Pembelajaran ini didukung lingkungan pembelajaran
kolaboratif, dapat memaksimalkan potensi siswa. Didukung dengan visualisasi
tingkat tinggi dan penggunaan media visual dapat meningkatkan pemahaman siswa.
Sebagai akhir dari sebuah
proses pembelajaran, penilaian formatif menunjukan sebuah pengendalian proses.
Melalui penilaian formatif, dan didukung dengan penilaian oleh diri sendiri,
siswa terpantau tingkat penguasaan kompetensinya, mampu mendiagnose kesulitan
belajar, dan berguna dalam melakukan penempatan pada saat pembelajaran didisain
dalam kelompok.
Pandangan Beers tersebut
memperjelas bahwa proses pembelajaran untuk menyiapkan siswa memiliki kecakapan
abad 21 menuntut kesiapan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan
mengevaluasi pembelajaran. Guru memegang peran sentral sebagai fasilitator
pembelajaran. Siswa difasilitasi berproses menguasai materi ajar dengan
berbagai sumber belajar yang dipersiapkan. Guru bertugas mengawal proses
berlangsung dalam kerangka penguasaan kompetensi, meskipun pembelajaran
berpusat pada siswa.
Simpulan dan Saran
Perkembangan perekonomian
global dan tuntutan dalam dunia kerja mesti disikapi sekolah dalam menyiapkan siswa.
Abad 21 menuntut penguasaan berpikir tingkat tinggi, berpikir kritis, menguasai
teknologi informasi, mampu berkolaborasi, dan komunikatif. Proses mencapai
kecakapan tersebut dilakukan dnegan memperhatikan taksonomi Bloom yang membagi
pengetahuan dalam dua kategori yaitu dimensi pengetahuan dan dimensi proses
kognitif.
Dalam konteks sistem
pendidikan nasional disarankan untuk melakukan analisis standar kompetensi dan
kompetensi dasar masing-masing kelas, sehingga dapat memberikan wadah yang
cukup dalam mengintegrasikan pembelajaran dalam beberapa mata pelajaran.
Daftar Pustaka
Anderson, L. W., & Krathwohl, D.
R. (2001). A Taxonomy for learning, teaching, and assesing. a revision of
Bloom’s taxonomy of education objectives. New York: Addison Wesley Longman.
Association, N. E. Preparing 21st
Century Students for a Global Society : An Educator’s Guide to the “Four Cs”.
Beers, S. Z. (2012). 21st Century
Skills: Preparing Students for THEIR Future.
Center, P. P. (2010). 21st Century
Skills for Students and Teachers. Honolulu:: Kamehameha Schools, Research &
Evaluation Division.
Kang, M., Kim, M., Kim, B., &
You, H. (n.d.). Developing an Instrumen to Measure 21st Century Skills for
Elementary Student.
Krathwohl, D. R. (2002). A Revision
of Bloom’s Taxonomy: An Overview. THEORY INTO PRACTICE , 212-232.
NCREL & Metiri Group. (2003).
enGauge 21st century skills: literacy in the digital age.
http://www.ncrel.org/engauge/skills/skills.htm
Rotherham, A. J., & Willingham,
D. (2009). 21st Century Skills: the challenges ahead. Educational Leadership
Volume 67 Number 1 , 16 – 21.
Skills, P. f. Learning for the 21st
century skills. Tucson,: Partnership for 21st Century Skills.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar